Yogyakarta dan Kisahnya (bagian 1)

0
9

Aku terperanjat. Dadaku naik turun dengan cepat, mengikuti ritme napas yang memburu. Disusul detak jantung yang menggebu.Mataku terbuka lebar, namun kepalaku berputar diikuti pandangan sekeliling yang nampak samar. Buliran air sebesar biji jagung menyusuri dahiku, deras. Aku berpikir keras. Mengingat kepingan peristiwa yang berputar jelas. Aku tak tahu persis peristiwa macam apa itu. Setitik demi setitiknya berputar jelas dalam kepalaku, bagaikan kaset rusak yang mengahantuiku. Semakin kuat aku berusaha mengingatnya, semakin tersiksa pula diriku oleh rasa sakit itu. Sial, batinku merutuki. Aku mulai menggapai kesadaranku, kuambil segelas cairan bening di nakas sebelah dipan. Aku meminumnya dalam sekali tegukan. Lega, itu yang kurasakan. Setelah itu aku memutar pandangan ke arah jendela. Pemandangan yang sama di kota Yogayakarta, langit terlihat sedikit bercahaya. Pertanda surya sudah mulai memainkan perannya. Aku memutuskan untuk mandi sekaligus sejenak menenangkan diri. Air dingin di pagi hari memang sesuai untuk meredamkan emosi.
Setelah ritual pagi itu selesai, aku melanjutkannya dengan berdandan rapi. Setelan kaos putih polos dengan kardigan hitam sebatas lutut, ditambah bawahan berupa celana jeans dengan warna senada. Sudah cukup pantas kurasa. Kemudian aku beranjak turun untuk sarapan. Belum sampai kakiku menginjak lantai dasar, indra penciumanku sudah terlebih dahulu mencium aroma sedap masakan. Aku tersenyum dalam diam dan segera mempercepat langkah kakiku. Aku tidak langsung menuju meja makan, melainkan mencari sosok dibalik lezatnya makanan yang ku nikmati tiap hari. Benar dugaanku, ia masih berada di dapur dengan sebuah nampan di tangannya.
“Sugeng enjing , Bu” sapaku riang dengan senyum terkembang.
“Pagi juga, Nduk . Kok dengarĂ©n kamu pagi – pagi sudah rapi begini. Memangnya mau kemana?” tanya ibuku sambil mendongakkan dagu.
“Nggih mau kuliah Bu, ada kelas pagi hari ini.”
“Wah ada kelas pagi, ya wes kamu cepat sarapan sana. Nanti biar nggak terlambat.”
“Nggih Bu. Tapi memangnya ibu sudah selesai masaknya? Kalau belum kula saget mbantu.” kataku menimpali.
“Wes ora usah, Nduk. Ini sudah selesai semua, tinggal menyiapkan di meja makan. Sekalian tolong panggilkan Rama sama adikmu.” lanjut ibuku menimpali.
“Iya, Bu.” jawabku.
Setelah itu kami sekeluarga sarapan bersama. Cukup membutuhkan waktu 15 menit. Kemudian aku membantu ibu membersihkan piring dan peralatan makan lainnya.
“Ibu, Rama, Kenes berangkat dulu ya. Assalamualaikum.” pamitku seraya menyalami kedua tangan suami istri itu.
Jam menunjukkan pukul 08.30, waktu tersisa sekitar satu jam lagi sebelum matakuliah pertama dimulai. Aku bergegas keluar rumah untuk memberhentikan angkutan umum. Kendaraan yang aku naiki melaju dengan kecepatan rata- rata, membelah padatnya jalan raya. Macet seakan menjadi rutinitas wajib di pagi hari. Kendaraan pribadi di sana sini, saling berhimpit dan berdesakan.
“Tinnnn tiiiinnnn tinnnnn, woyyy bisa nyetir nggak si ?” teriak seorang pemuda dengan nada marah.
“Sabar dong Mas, kayak jalanan punyanya sendiri aja.” seorang ibu menimpali.
Terdengar beberapa sumpah serapah dan caci maki oleh orang – orang yang tak mau antri. Aku hanya tersenyum dalam hati. Kota Yogya memang tidak seperti dulu lagi, sekarang kota ini sudah terciprat arus modernisasi. Masyarakatnya pun sama, pikiran dan perilaku mereka mulai bertransisi layaknya masyarakat kota metropolitan. Asas homo homini lupus 10 diagungkan. Masyarakat saat ini tak menegenal toleransi jika sudah turun di jalanan. Angkutan yang kutumpangi melewati area Jalan Malioboro, seingatku dulu disini banyak andong berjajar rapi. Namun sekarang nihil, mereka sudah tergantikan angkutan yang lebih modern dan praktis. Aku merindukan Yogya yang dulu, kota yang penuh keindahan juga kesederhanaan.

LEAVE A REPLY