Usaikan Aku! Deru Ratap Eluhku

Fajar kelabu
Apa pernah kau tahu?
Perlu kau tunggu tuk tahu
Sabar petang yang rindukan fajar terang
Sapa apa yang esok datang
Kini saja, deru purnama enggan bercengkerama
Bercerita mengadu asa apa yang telah menjelma
Tak terpasang lagikah mataku tuk tatap lazuardi biru
Gulita saja yang tertumpu
Aku benalu payah yang lelah
Sadarkan aku
Namun kau tahu kini adaku semu
Aku meringkih pada asaku yang berhimpit tak berseru
Tatap gerombol anak kumuh tak tentu arah
Lepaskan aku dari permainan ini
agar aku terhenti dari kefanaan
Fana
Aku pengemar ngiangan fana
Pancaran fana yang lumpuh
Terteleguk mengernyitkan arti bahagia saja
Sementara
Fana
Keusaian hampa yang memanah juga
Memang
Ladung tak mau tinggal bersama talas
Malah kini aku bermuara pada ruang cambukan tak terperarah
Amukan kosong deras menikam
Benturkan!
Nan benturkan pelan saja, sebentar saja
Aku letih, jenuh. Kau hancurkan sejuk duniaku
Ah maaf, bukan kau
Tapi
Tapi aku yang sembari kunjung
Isak eluhku ingin terhenti menderai
Rinduku tetap lamat-lamat mega ungu juga lazuardi biru
Hausku meratap hanya di atap ada tak berperisa
Jingga kelabu abu warna air sungai
Yang sanggup sucikan aku
Tenteng aku ada lengan saktinya
Wudhukan aku dengan tumpah genangan kalbu
Usai itu selesailah aku
Jangan lagi kau panggil aku
Dengan hujaman yang mengelu-elu luluh lantakkan aku

LEAVE A REPLY