Aku mempunyai seorang nenek bermarga Ginting yang kami panggil dengan sebutan Iting.

Dari zaman nenekku muda sampai sekarang nenekku setia atas usahanya yaitu menganyam tikar pandan.

Pandan adalah tumbuhan berwarna hijau dan memiliki duri. Pandan yang berwarna hijau itu diolah menjadi pandan berwarna putih.

Caranya yaitu, daun pandan yang memiliki duri dibersihkan dengan membuang durinya, dibelah-belah, ditumbuk, direbus,dan direndam ke dalam air selama 3 hari di sebuah ember besar.

Setelah 3 hari pandan dikeluarkan dari air rendaman, dibersihkan dengan air bersih, kemudian di jemur di bawah trik matahari sampai kering(warna pandan berubah menjadi putih).

Setelah kering pandan di rapikan dan diikat. Istimewanya nenekku dapat mengukur 1 tikar dengan genggaman tangannya. 3 genggam tangan nenekku cukup untuk membuat 1 tikar panda.

Tikar ini biasanya digunakan budaya adat karo pada saat ada perkawinan. Nenekku selalu menghimbau kami cucu-cucunya untuk belajar menganyam tikar pandan karna selain menghasilkan uang menganyam tikar pandan juga menambah keterampilan.

Alangkah bangganya aku punya nenek seperti ini, meskipun sudah berumur 80 tahun masih dapat  menghasilkan uang saku untuk membeli sirihnya dari hasil menganyam tikar pandannya.

Sekianlah Riwayat Usaha Nenekku(Itingku)

 

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY