Teror Psikopat

0
5

Teror Psikopat

Banyak orang yang bilang dia sudah meninggal,tapi bagiku dia masih ada dan hidup. Ya, aku memang melihatnya tergeletak dengan bekas lindasan truk tronton mengalir cairan merah segar yang mengalir deras bak sungai Nil dengan tubuh yang seakan sudah tak berwujud, organ tubuh yang memaksa keluar bagai daging cincang restoran, ususnya menjulur panjang segar, otaknya berceceran. Bahkan tak ada yang mengenalinya, akupun hampir tak dapat mengenalinya. Aku pun hadir dalam prosesi pemakaman adik lelakiku. Ya, dia saudaraku yang terbaring lemas terbungkus kain suci, orang orang menangisinya, terlukis bulir bulir kesedihan yang tak enggan lagi menjatuhkan dirinya yang kemudian berubah kemarahan yang terlukis saat melihatku yang seakan mereka mengatakan hal yang sama : Kau Membununya!
Padahal bukan salahku, aku sama sekali tak bersalah, dan aku tak mau disalahkan.
“alay deh gitu aja ditangisi padahal yang ditangisi aja udah meninggal, kecuali kalau nangis terus bikin adik hidup lagi sih ya aku nangis terus dan paling kenceng” kataku dalam hati.
Kejadian itu menimpanya karena ia terlalu bingung dengan tekat baiknya yang alhasil malah malapetakalah yang merenggut nyawanya. Tekat baik ingin menyelamatkan anak sapi yang sedang asyik berjalan-jalan di tengah jalan raya. Aku sudah memperingatkannya berulang kali tapi tak satupun perkataanku di dengar olehnya.
“ya gini kalau adik durhaka, dibilangin dan dilarang sesuatu malah seakan disuruh, kan siapa yang repot? Kan siapa yang dituduh? Ya tetep aku lah!” gerutuku sendirian ditengah kerumunan orang banyak
Aku sempat suntuk akibat tuduhan yang menghujaniku hal itu membuatku semakin terpuruk dan bermunculan niat buruk yang menjajah otakku.
Ayahku depresi akibat kejadian yang menimpa adikku itu akhirnya ayahku memutuskan untuk menyusul adikku ke Surga dengan cara yang tak lazim yaitu mencamili paku dan batu yang mengakibatkan pencernaannya tersumbat dan alhasil nyawanya terenggut dengan cara yang menurutku sangat konyol, menurutku bunuh diri yang dilakukan ayahku sangatlah konyol, mengapa tidak menerjunkan diri dari lantai 20 ataupun menusuk jantungnya dengan pisau dapur kan meninggal dengan sederhana tak seribet ayahku.
“cita citaku berubah aja deh, jadi reporter nanti aku bakal bahas masalah yang menimpa keluarga konyolku, dan ntar kalau ada yang mau bunuh diri lagi bisa konsultasi ke aku dulu biar gak salah jalan dan terkesan konyol hahahaha” pikirku melayang layang seperti orang sakaw tapi memang benar apa yang kukatakan daripada kejadian ayahku terulang kembali.
Akhirnya aku tinggal bersama dengan ibuku, kalau dibilang tinggal memang tinggal tapi tak bersama, karena ibu selalu sibuk dengan dunianya sendiri yang tak pernah mempedulikan anaknya yang tinggal satu ini. seakan akan dunia ini milik ibu sendiri padahal jelas jelas yang menciptakan itu Tuhan Yang Maha Esa. Ia sibuk mengurusi pekerjaannya ke luar negeri yang selalu ditemani oleh asisten pribadinya yang menurutku dia bukanlah sekedar asisten mungkin sudah berpacaran diam diam, tapi ya bodo amat dah itu kan urusan ibuku bukan urusanku toh aku mati pun mungkin ibu tak akan peduli.
“kita remaja yang sedang dimabuk asmara, mengikat janji bersama selamanya hati telah terikat sepasnag mata mengikat melambungkan asmara, seakan dunia milik berdua” suaraku memang merdu ya merusak dunia tapi setidaknya kalau aku menyanyikan lagu HIVI remaja aku jadi paham mungkin pencipta lagunya meramal nasib yang menimpa ibuku jadi mereka membuat lagu yang demikian.
Dan saat aku sendirian, lagi lagi si anak dekil adikku muncul.
“dim dim dam mari berdendang dim dim dam tak boleh dendam!” suara fals yang membuat telingaku terbelah belah
Entahlah dia ini belum puas hidup di dunia ataukah dia memang tak nyaman di akhirat atau bagaimana tak jelas alasannya. Tak ada yang berubah darinya, ia tetap tampan seperti sebelum meninggal tapi tak ada tanda tanda bekas ia kecelakaan bahkan tubuhnya utuh tapi membuatku sangat jengkel, karenanya aku tertuduh yang tidak tidak bahkan ia selalu mengekoriku setiap hari. Tapi satu yang aku tahu yang kuhadapi ini dia hanyalah hantu dan dia sudah meninggal.
“yahh dia lagi dia lagi” seruku
“apa sih kak, sirik deh. Mentang mentang masih hidup aja sombong! Berasa dunia ini milik kakak sendiri aja kaya perkataan kakak tadi tentang ibu aja, BTW kok kakak bisa lihat?” serunya girang
“lebay, ya iyalah mataku kan 2 jadi bisa lihat, dasar adik gak pernah pinter“ ejekku padanya
“indigo maksudku!, dasar kakak yang gak pernah peka, makanya jomblo terus. Sekali dideketin cowok eh ujung ujungnya diPHP in, mending aku lah baru juga meninggal udah dapet cewek di kuburan tadi!” ejeknya
Aku dikenalkan dengan teman baru alias cewek dia, rakus bener barujuga umur 8 tahun umur umur biji jagung udah nekat aja, dia yang kebetulan bertetanggan dengan bonyik di alam kubur. Bonyik adalah nama adikku yang super ngeselin yang gak henti hentinya membuat aku marah. Ia bernama syusyah mingkem, nama yang tak asing di telinga, pasti kita membayangkan dia orang yang tak bisa menutup mulutnya, memang benar dugaan itu. benar saja dia meninggal karena memakan sabun pemutih pakaian yang ia kira itu susu murni yang di simpan ibunya, alhasil bibirnya membesar dan melepuh akhirnya ia meninggal dengan kondisi yang demikian, hantu yang konyol.
Sering kali adik laki lakiku ini bertingkah seakan dia raja, susu dikulkas ia habiskan bahkan hanya tersisa setetes saja, roti yang seharusnya berselai tapi jadi berkecap karena ulah bebengek ya itu sebutan yang pantas untuknya. Kadang karena aku terlalu jengkel ia sering kusiksa dan kupukuli hingga berlumuran darah seakan aku ingin sekali membunuhnya, membunuh orang yang meninggal.
“ting tong kring kring wiu wiu!!” suara bel masuk terdengar jelas. “ini itu bel sekolah apa lampu ambulan sih jadul banget, gak ada yang lebh keren kali ya” gerutuku
“ya kali Nong, emang sekolah ini punya nenekmu apa? Suka suka yang bikin bel dong!” sahut Heli. Ya aku biasa dipanggil Jenong di sekolah, karena memang dahiku terlihat jenong dan lebar tapi aku yakin kalau hal demikian itu hanya dimiliki oleh anak yang cerdas.
Dunia sandiwara, aku biasa menjuluki sekolah ini dengan sebutan dunia sandiwara.
“indahnya dunia sandiwara, bila semua insan di sini lenyap di tanganku sendiri hahahahaha!!!” batin jahatku mulai merasuki otakku
“kakak alay deh, kebanyakan nonton drakor sih” celetuk bonyik yang sedari tadi memandangiku seakan heran dengan apa yang aku batinkan.
“diam!!!!!” teriakku yang sontak membuat anak satu sekolah menghentikan kegiatannya dan memandangiku seakan kaget atas apa yang baru kulakukan
“kakakku ternyata gila, padahal yang bisa melihat aku hanya kakak saja hahaha” ejeknya yang sontak membuatku kaget
Dan aku baru saja sadar bahwa bonyik tak bisa di lihat karena dia itu hantu bukan manusia. Pertama kalinya aku malu di depan umum
“braaaaaakkkkkkkkk!!!!!” suara benturan antar lengan yang cukup keras
“maaf maaf buru buru” suara lirih yang membuat hati tenang,saat ku toleh ternyata dia Joe si anak tajir kelas 12 IPA 9 yang menjadi kapten basket di sekolah sekaligus ketua osis. Kurang nikmat mana coba kalau saja dia itu pacarku, tapi siapa juga yang mau sama cewek tomboy ala ala korea yang orang menyebutkan aku ini PSIKOPAT tingkat akut.
“kak ganteng banget, sumpah gak bohong deh kalau aku bohong aku bakal meninggal deh” bisik bonyik tepat ditelinga di sebelah kanan.
“terus kenapa? Kan kamu hantu kan udah meninggal. Please deh yang pinter dong. Kan kamu cowok. Siapa suruh meninggal duluan. Makanya kalau hidup itu dinikmatin, bukan malah meninggal konyol gini nyelamatin anak sapi pula” bisikku kepadanya.
“kan aku anak baik baik, toh juga aku sekarang berasa hidup lagi”muka melasnya terpasang nyata yang berharap bisa meluluhkan hatiku, tapi hal itu malah membuatku merasa jijik dengan kelakuannya.
Jenong berencana untuk memberkan kode kode cinta kepada Joe dengan selalu mengirimkan barang barang ke Joe mulai dari di loker, kelas, maupun di rumah. Baru pertama kalinya Jenong merasakan jatuh cinta kepada laki laki jadi dia tak pernah tau istilah romantis dan cinta itu bagaimana
“kak, nanti aku yang ngirim ya?” pintanya kepadaku
“modus lu bocah, okedeh gak masalah.” Akhirnya aku memenuhi permintaannya, sekali kali tanpa kumanfaatkan dia sudah menyerahkan diri untuk dimanfaatkan
Hari demi hari ia tak pernah absen untuk memberinya hadiah, tapi
“eh nong, kamu ya yang neror teman ku?” tiba tiba suara itu terdengar sangat jelas, aku menoleh ke belakang dan ternyata si Jelly sahabat Joe
“kak hati hati kak,bahaya” bisik si Syusyah mingkem yang tiba tiba saja muncul.
“kalau iya kenapa? Kalau gak pun juga kenapa?” nadaku terdengar sangat menantang
“kamu tahu gak? Joe bukannya suka sama kamu tapi tambah takut lah, ya siapa yang gak takut kalau barang barang yang kamu kirimkan itu ya hari pertama boneka tanpa kepala, kedua bunga makam, ketiga puisi berjudul mati, dan yang terakhir baju kumuh berlumuran darah. Dipikir dulu makanya, kamu itu gak pantes buat Joe, dasar PSIKOPAT!!” kata kata itu seketika membuat sarafku seketika tergoyah kaku.
Teror demi teror seketika langsung terhenti detik itu. Jenong merasa hatinya tersayat sayat pisau.
Jenong menyusun rencana jahatnya dengan niat ingin membunuh Jelly. Dengan menyusun rencana membuat sebuah kecelakaan kecil di mobil yang ia kendarai. Ya benar saja kecelakaan tejadi begitu singkat.
“Bonyik dan Syusyah aku terimakasih banyak, jarang jarang kalian pinter kaya gini kan kalau gak pas kepepet. Berkat kalian si bebengek Jelly udah di telan ban truk” rasa girang dan bangga menyelimuti hati dan pikiranku.
“okelah!” bonyik dan syusyah kompak menjawab pernyataan pedas kakaknya itu.
“gubraaak wiu wiu wiu” suara mobil ambulan yang melintas, dengan adanya rencana ini aku bisa menyamar menjadi seorang pahlawan. Dan menarik simpati Joe alhirnya Joe suka sama aku.
Sebelum aku meninggalkan jasad si Jelly aku memastikan bahwa dia telah lenyap, aku mengajak bonyik dan syusyah untuk melihat kondisi dari si Jelly. Ya, benar saja kondisi Jelly sangatlah mengenaskan tapi menurutku masih mengenaskan jasad si bonyik. Saat dikira kepala Jelly terjepit polisi segera menariknya keluar tapi ternyata kepala Jelly menggelinding lalu seketika pecah menjadi beberapa bagian dengan mata terbelalak sebelah, pancuran darah keluar dari lehernya, ususnya menjalar keluar, dan badannya terbelah menjadi 2 akibat lindasan keras dari ban truk.

1 minggu kemudian

Aku mendapatkan informasi tentang Joe dari bonyik
“ kak dengerin, jadi begini aku tadi tahu sahabat bang Joe yaitu si Putra datang ke tempatnya Joe. Yang mengejutkan lagi itu ternyata si Putra lah yang mempelopori perlakuan Joe selama ini ke kamu kak. Jadi dia tak suka ke kakak dan tak mau kalo Joe dekat dengan kakak”
Seketika emosiku terpuncak puncak, aku berniat meneror Putra terlebih dahulu hingga ia merasa ketakutan dan bunuh diri tapi hal itu gagal seketika.
Hingga pada akhirnya aku muak dengan semua aku berunding dengan adikku
“dek, aku punya rencana dan kamu wajib bantu aku. Kalau kamu gak bantu aku bakal ngebunuh kamu. Inget itu!” ancamku padanya
“sadis banget lu kak” lirih bonyik
“gini, aku pengen bekerja sama dengan si syusyah mingkem untuk membunuh si Putra. Aku pingin si syusyah mingkem masuk ke tubuh Putra dan mengarahkannya untuk menerjunkan dirinya ke danau”
Rencana itu awalnya berjalan dengan mulus, tapi akhirnya rencana itu gagal total karena aku terciduk oleh Joe. Ia semakin marah ia murka dan akhirnya.
Aku putus asa, sangat putus asa. Aku memutuskan untuk bunuh diri, tapi hal itu lagi lagi gagal. Aku mendapatkan tamu yang sangat istimewa yaitu perawat Rumah Sakit Jiwa. Yaaaaa zonk kan! aku di seret ke rumah sakit jiwa. Dan lagi lagi dibuntuti 2 hantu itu. hari demi hari semakin berlalu,aku berpura pura amnesia, bersikap seakan tak terjadi apa apa dan sembuh dari gilanya, akhirnya karena di rasa cukup pihak rumah sakit jiwa mengirimkannya ke pusat pelatihan mental.
Niat jahatku kembali muncul
“sial banget hidupmu kak, kasian banget mending kaya aku langsung meninggal gak seribet ini” lirih si syusyah
Bus yang menompangku dan kawan kawan serupa tiba tiba saja menabrak pembatas jalan, padahal tak ada angin tak ada badai. Ya salah satu niat burukku kembali mulus atas bantuan 2 setan yang betah di dunia, semua yang ada di dalam bus meninggal bahkan ada yang menghilang tiba tiba.
“Aku bebas!!”
Kebencianku kepada Putra masih saja berlanjut. Walaupun Putra bersikeras meminta maaf atas perbuatannya kepada Jenong tapi tak bisa memaafkan perlakuannya. Jenong semakin hobi dengan rencananya membunuh Putra walaupun hasilnya nihil.
“yoyoyoyoyo lalalala kakak hebat kakak pasti bisa” arwah konyol yang enggan mati kembali beraksi
“yoyoyoyoyo udah mati gak mau terima yoyoyo” kekesalan mulai menghantui pikiran
Rencana itu terus berlanjut entah sampai kapan.
“cintalah seseorang dengan sewajarnya karna bisa jadi orang tersebut adalah orang yang kamu benci suatu saat nanti,dan bencilah seseorang dengan sewajarnya karna bisa jadi orang tersebut adalah orang yang kamu cintai suatu saat nanti” kata kata itu tiba tiba mampir di bayangannya. Benar saja ia semakin lama semakin dibuatnya meleleh dan benih benih cintapun tumbuh di antara mereka. Hal itu bertahan hingga beberapa tahun silam. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa cinta mereka dengan menikah
Tapi, pada malam pertama niat itupun mulai dilancarkan kembali oleh Jenong dengan bantuan hantu konyolnya berharap ini benar benar terjadi. Jenong siap menancapkan pisau tepat di dahinya. “hiaaaaaaaaa!!!!!!”
“duuuugg!!” suara jelas itu membuatnya terbangun dari mimpi buruk itu. aku terjatuh dari kasur
“mimpi? Hanya mimpi? Padahal asyik. Kenapa gak lanjut sih” gerutu dan omelan menghujani diriku sendiri.
Ternyata kisah yang membuatnya keringat dingin tadi hanyalah sebuah MIMPI BURUK.
Esoknya aku berniat bertemu dengan putra dan bercerita perihal mimpi mengenai dirinya, tapi malah diketawakan “ hahahahaha ya gitu kalau terlalu ngefans sama aku sampai kebawa mimpi” ledek Putra
“kok ngledek sih?” tanyaku
“ya iyalah kan kita gak ada masalah, dan masalah ini kayaknya juga sudah tuntas dan udahkita selesaikan dari 2 minggu lalu deh, mimpi kamu tuh telat dimulainya makanya orang narator yang bikin cerita ini itu suruh minum air putih dulu biar fokus bikin naskah ceritanya hahaha “ sambil tertawa meledek
Aku mengingat kembali kejadian yang sebenarnya, alu masih terbawa mimpi psikopatnya.
Namun tiba tiba “kak, tolong!!” suara jelas terdengar membuatku kaget dan takut mimpinya itu berubah kenyataan.
Jenong dan putra sontak saja berlari mencari sumber suara itu, namun…
TAMAT

LEAVE A REPLY