Pendekar muslimah bagian 2 : d-waw

0
22

Bag 2

Buta

Ita berangkat ya bun. Seperti biasa aku menciun tangan bundaku dengan khusyuk. Do’akan semoga di beri kemudahan dalam menuntut ilmu.
Ibu mencium keningku sebelum aku pergi.
Ayah menuntunku masuk ke mobil. “Ita sudah bisa sendiri ayah. Ita sudah besar.” “Tapi kamu tetap anak ayah nak.” Ayah memaksa dan tetap membantuku masuk ke dalam mobil. Mobil melaju. Aku membuka jendela dan berteriak. “Assalamu’alaikum umiiiiii” “wa’alaikumussalam nak” ibu selalu menunggu di depan pintu sampai mobil kami tak terlihat lagi. Baru bunda masuk kedalam rumah. Seperti apa wajah dan ekspresi ibu. Ketika kami meninggalkan ibu sendiri dirumah. Aku meraba kaca pintu mobil. “Seperti apa rupa kota ini ayah. Yang aku ketahui kota ini begitu bising” “yaa. Memang begitulah nak.”
Aku ingin mengetahui bagaimana dunia itu. Dunia yang banyak di sebutkan dalam al-qur’an. Yang di dalamnya allah tumbuhkan tanaman2 yang berbuah dan buahnya memiliki rasa yang berbeda2.
Sampai. Sekolah baru ku. Sekolah luar biasa pelita bangsa

Bisu
Aku salim pada ibu. Aku naik motor dengan ayah. Ayahku satpam di sekolah jadi kami. Harus berangkat lebih awal. Adikku biasa.a di antar oleh ibu. Karena sekolahnya tidak terlalu jauh. Aku menemani ayah sebentar. Lalu saat hendak melangkah. Seorang lelaki paruh baya menepuk bahuku. Dy bertanya dimana aula.a. lalu aku memberi tahu bahwa aku tidak bisa bicara dan menyuhnya bertanya pada pak satpam ( ayahku) lalu ayahku justru menunjuk ke arahku “ikuti saja anak itu”
Lalu bapak paruh baya tadi menuntun anak seusiaku turun dari mobil. Wah cantik sekali pikirku. Taklama dy mengeluarkan tongkat dari dalam tasnya. Owh dy buta. Lalu kami berjalan menyusuri lorong panjang memang sedikit sulit tempatnya bagi pendatang baru karena tempat ini begitu luas. Tapi tidak untukku karena aku biasa bermain disini.

Tuli
Seperti biasa aku mengambil aba2 siap berlari mengejar bus sekolah sampai halte berikutnya. Yup betul sekali aku melakukan itu setiap hari sekolah. Tapi saat hitungan ke 3 selesai seseorang menarik telingaku. Aduh aduh. Teriakku. Ibuku. Membawa kertas bertuliskan besar2 “jangan macam2. Kamu akan terlambat” aku nyengir kuda dan langsung masuk kedalam bis. Bis melaju ibu melambaikan tanganya padaku. Aku mengucapkan salam ibu tertawa lalu menjawabnya. Entah seperti aku belum bisa mengucapkan salam dengan baik padahal aku orang islam. Baca qur’anpun aku masih blum bisa. Tapi ibu tak pernah menyerah. Ibu selalu mengajariku. suatu saat aku akan bisa ibu. InsyaAllah

Bodoh
Ayah aku betangkat. Kucium kening ayah yang masih di meja makan. Naik mobil dan diantar supir kesekolah baru ku. Yang kta.a sekolah ini spesial. Ah seperti.a akan sama saja seperti dlu. Org hnya mendekatiku untuk uang.

LEAVE A REPLY