Panggilan Dari Gunung

0
24

Namaku adalah Ranu. Aku adalah seorang pelajar yang masih duduk di bangku SMA yang suka tidur ketika di sekolah. Aku tidak tahu kenapa aku selalu tidur di sekolah, tetapi tidur di sekolah terasa menyenangkan layaknya kamar kedua bagiku. Umurku tepat 17 tahun dan saat ini aku berusaha bagaimana aku segera mendapatkan Kartu Tanda Penduduk.
Hari ini ujianku akan segera berakhir, teman temanku mulai mengatur rencana akan pergi kemanakah saat liburan nanti. Aku tidak pernah memikirkan tentang rencana liburanku aku hanya ingin mengisi liburanku dengan banyak banyak berkunjung di warung kopi menikmati kopi bersema teman temanku hingga larut malam hingga tak ada orang lain diwarung kopi itu selain aku dan teman temanku.
Pada saat liburan telah tiba aku mulai mengisi liburanku menikmati kopi dengan alunan musik sedih dan galau yang kadang juga mengingatkanku pada masa lalu yang menyayat hati hehehe, memulai perbincangan yang mungkin tidak begitu perlu tetapi lucu, perbincangan yang hangat di dinginnya malam yang penuh dengan bintang bintang. Ketika itu salah satu temanku mengajakku untuk mengisi liburan untuk mendaki gunung, gunung yang didaki pun tak tanggung tanggung yaitu Gunung Semeru gunung tertinggi di Jawa dengan ketinggian 3676 Mdpl gunung yang dijuluki dengan gunungnya para dewa.
Setelah perbincangan yang lumayan lama akupun meng-iya-kan ajakan itu, tetapi dalam benakku aku bertanya tanya bagaimana jika aku disana mengalami kedinginan? Bagaimana aku disana nanti tidak sampai puncak? Bagaimana bila terjadi hal buruk? Apa saja yang harus kubawa? Untunglah ada temanku yang bernama Sono yang sudah pernah mendaki gunung tersebut dan memberiku sedikit informasi bagaimana keadaan disana dan apa saja yang harus aku siapkan.
Aku mulai menyiapkan apa saja yang harus dibawa dan menyiapkan fisikku agar tetap sehat dan kuat ketika mendaki gunung tersebut. Ini adalah pengalaman pertamaku mendaki gunung, aku sungguh antusias.
Beberapa hari sebelum keberangkatan aku dan teman teman sedikit mendapati masalah barang bawaan yang sampai saat ini belum kami dapatkan dan juga kendaaran yang harus digunakan dari tempat kami menuju Ranu Pani. Ranu Pani adalah tempat awal kita mendaki, juga melakukan registrasi dan breafing sebelum pendakian, bahwa kita adalah pendaki yang legal karena masih banyak pedaki illegal yang tidak melakukan registrasi. Masalah tersebut membuat kami kebingungan dan sesegera mungkin kita harus mendapatkan kekuarangan apa yang belum terpenuhi. Kami sedikit bersih tegang ketika menyelesaikan masalah ini.
“Bagaimana ini No? Apakah tidak ada toko persewaan alat pendakian selain tempat yang di Dilem itu?” tanya temanku Teblung, maklum saja karena toko persewaan di daerahku bisa dibilang masih minim
“Iya Son kita harus segera mendapatkan itu” sahut Koko yang juga ikut mendaki
“Tidak hanya itu Son, kendaraan kita kurang 1 karena peraturan di jalan ketika menuju Ranu Pani tidak diperuntukkan bagi Sepeda Motor ”
Sono dengan wajah yang kebingungan berusaha mencari bagaimana dapat meyelesaikan permasalaham ini
“Nu Ranu apakah kamu ada kendaraan selain matic di rumahmu?” Sono langsung bertanya kepadaku
“Dirumahku ada motor tetapi motor itu digunakam oleh orang tuaku untuk bepergian sehari hari” aku pun menjawab dan menjelasknya kepada Sono
“Bagaimana kalau sepeda motorku ditukarkan sementara dengan motornya Ranu?” Sahut Teblung
“Ide baguussss, oke besok Teblung akan kerumahmu dan menukarkan sepeda motor ini ” jawab Sono
“Tapi bagaimana dengan barang bawaan yang kurang ini Son?” wajah Koko yang sedikit cemas
“Aku sudah mencarikan toko lain jadi kita besok tinggal mengambilnya” jawab Sono

Hari mulai berganti dan hari ini adalah hari keberangkatan, pada pukul 20.00 WIB kami harus segera berkumpul dirumah Sono. Malam hari, aku berpamitan kepada ibuku
“Bu, hari ini aku ingin mendaki gunung minta doanya agar aku berangkat selamat dan kembali kerumah dalam keaadaan sehat”
“Iyaa nak, hati hati dijalan. Jangan lupa puncak bukan tujuan akhirmu tetapi rumah adalah tujuan terakhir kamu” jawab ibu dengan setelah mencium kedua pipiku
Waktu telah tiba, pukul 21.00 WIB kami berangkat dengan 5 motor yang saling bergoncengan dan segera menuju Ranu Pani. Tiba di Ranu Pani saat subuh kami melakukan sholat berjamaah sembari menunggu loket dibuka dengan cuaca yang sangat dingin. Loket pun dibuka banyak pendaki pendaki lain mulai mengantri , setelah mengantri ternyata dokumen kami untuk registrasi ada yang kadaluarsa yaitu surat kesehatan karena peraturan baru adalah surat pemeriksaan kesehatan harus satu hari sebelum pendakian. siaaallll!!!
“Woi teman teman surat kesehatan kita kadaluarsa, surat resmi harus sehari sebelum pendakian kita dimulai. Bagaimana ini?” tanyaku dengan tergesa gesa setelah berlarian dari loket ke teman teman
“Sebentar, aku tanyakan ke pendaki lainya” Koko segera pergi ke pendaki lain
“Mohon maaf, untuk pembuatan surat kesehatan kembali didaerah sekitar Ranu Panu dimana ya?
” Oiya, dibawah sebelah utara tempat untuk breafing” jawab pendaki tersebut
Kami pun segera bergegas membuat surat kesehatan dan melakukan peregistrasian kembali. Setelah selesai registrasi, kami diarahkan petugas agar melakukan breafing. Breafing dimulai, petugas berbicara didepan dengan banyak himbauan.
Pendakian dimulai, selepas dhuhur kita berdoa bersama sebelum melakukan pendakian dengan terik matahari tepat ditengah tengah langit. Kami memulai perjalanan, tujuan awal kami adalah Kalimati.
“Pos 1 sudah sampai, kita istirahat sebentar disini” Sono yang sedang bersandar pada pohon yang cukup besar.
Di pos 1 terdapat banyak jajakan makanan yang diperjualkan dari gorengan, buah buahan, makanan ringan hingga nasi uduk, tetapi harga yang ditawarkan lumayan mahal bila dibandingkan dengan didaerahku, Akupun bertanya kepada bapak penjual itu di pos 1.
“Pak, kenapa kok harganya sangat mahal” aku sambil memakan buah semangka yang kubeli dari bapak tersebut
“Iya nak, perjalanan dari rumah bapak sampai ke pos 1 saja membutuhkan waktu lebih dari 3 jam dengan medan yang terjak tersebut” jawab bapak
“Diatas sana nak masih banyak orang berjualan seperti bapak ini, ada yang rela tinggal disana dan sesekali turun gunung untuk membawa bahan makanan yang aku diperjualkan”
Selesai bersitirahat, kami memulai pendakian kembali melewati pos per pos tetapi ditengah tengah perjalanan Koko mengalami kaki kram hingga mengakibatkan kami beristirahat cukup lama ditengah tengah perjalanan
“Bagaimana ini Son, sebaiknya kita mengubah tujuan kita awalnya yang harus ke kalimati untuk singgah di Ranu kumbolo saja”
“Kita lanjutkan besok pagi saja menuju Kalimati” jawabku
“Iya son, kita tidak mungkin meninggalkan satu teman”
“Kita berangkat bersama ya, ya harus pulang bersama tak ada yang harus ditinggalkan” saut Teblung kepada Sono
“Yasudah, malam ini kita bermalam di Ranu Kumbolo” jawab Sono kepada Teblung.
Sedikit demi sedikit langkah kami menuju ke pos 4. Setelah tiba di pos 4 kami beristirahat sejenak.
“Ranu Kumbolo sudaaah dekaatttttt!!!!!” teriak Londo dengan penuh semangat saat tiba di pos 4
Londo adalah salah satu temanku yang mempunyai kulit dan wajah seperti orang barat, mungkin dia ada blesteran Jawa londo kali, pemuda yang selalu didamba dambakan oleh kaum hawa ini, tapi tidak sekarismatik diriku, hahaha.
Sore hari, tibalah kami di primadona Gunung Semeru ini, Ranu Kumbolo. Hawa terasa dingin dengan hembusan angin yang begitu kencang, kami pun bergegas mendirikan tenda dan memasak makanan untuk malam ini. Bulan dan bintang bintang pun mulai bermuculan tanda malam telah tiba, kami semua makan bersama di bawah indahnya langit Ranu Kumbolo
“Ayo kita segera makan, besok kita akan melakukan perjalanan panjang ke Kalimati” Sono kepada teman teman untuk segera makan.
Setelah makan selesai, aku dan Teblung satu tenda tidak hanya Teblung aku juga satu tenda dengan Reno, teman Sono yang dari dulu ingin ke Gunung Semeru tetapi beru kesampean sekarang. Di dalam tenda kami berbincang bincang tentang kesiapan besok, setelah sudah menyiapkan untuk perjalanan lumayan jauh dari Ranu Kumbolo ke Kalimati aku pum mengajak Teblung keluar tenda.
“Blung blung ayo keluar tenda”
“Ngapaaiinn diluar cuacanya dingin” jawab Teblung yang sudaj tiduran dengan dibaluti oleh Sleeping Bag
“Lihatlah ada banyak bintang diatas” aku yang sudah diluar tenda menikmati indahnya Ranu Kumbolo
“Waahhhh… nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. Sungguh indah ciptaanmu ini Ya Allah” dengan air mata berkaca kaca melihat indahnya Ranu Kumbolo.
Pagi telah tiba, ternyata pada saat pagi Ranu Kumbolo terdapat banyak es karena pada saat itu cuaca memang sangat dingin. Kami berfoto foto ketika Matahari muncul dibalik tebing Ranu Kumbolo, sungguh indah.
Setelah selesai semuanya kami membersihkan tenda kami dan melipat kembali tenda kami untuk segera bergegas dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Kami memulai dengan Tanjakam Cinta yang konon katanya bila mendaki tanjakin ini tanpa melihat kebelakang dengan diselipi sesorang yang ada dipikiran kita makan akan dilanggengkan dengan apa yang kita pikirkan. Setelah melewati tanjakan cinta kami disuguhi hamparan bunga bunga yang indah, bunga bewarna ungu yang tidak boleh dipetik oleh pendaki menambah keindahan, Oro Oro Omboh namanya.
Jam demi jam kami lalui terik panas matahari tak menghalangi langkah kami setelah melewati Oro Oro Ombo kami beristirahat di Cemoro Kandang disitulah rasa lelah mulai menerpa tubuh trek yang mulai curam ditambah panas matahari yang menyengat. Setelah duduk duduk santai kami memulai pendakian dan tibalah kami di Jambangan puncak Mahameru yang tandus dan curam terlihat jelas dari Jambangan kami pun mengambil foto
“Rek ayo kita foto bersama, mumpung pemandanganya cukup bagus” Sono memgajak teman teman yang sedang membeli makanan di pedangan yang ada di Jambangan
“Ayooooo” jawab teman temanku
Setelah berfoto foto kami memulai kembali perjalanan. Oiya, trek dari Jambangan menuju Kalimati sedikit lembih santai dibandingkan trek sebelumnya. Hingga sampailah kami pada titik akhir yaitu Kalimati, terlihat jelas puncak Mahameru yang begitu menyeramkan bagiku karena butuh waktu kurang lebih 5 jam untuk dapat berdiri dipuncak tertinggi di jawa tersebut, bukan karena jalanya jauh tetapi kemiringan yang mencapai 70° dan kontur tanahnya yang berpasir akan membuat langkah kami sedikir lambat, kami berusaha mengeyahkam keraguandan fokus mendirikan tenda. Aku bersama Sono dan Londo mengambil air untuk memasak dan sebagai bawaan untuk kepuncak, sumber yang lumayan jauh melewati diantara tebing yangng sempit membuat perjalanan kami sedikit lebih lama. Setelah selesai kami mulai memasak untuk mengisi tenaga tetapi ada sedikit lelucon pada saat memasak
“Loooohhhh Blung, kamu itu kan aku pasrahi untuk membawa tempe. Mana tempenya sekarang” Sono bertanya kepada Teblung.
“Lah ini son tempemya ” jawab si Teblung
Aku dan teman temanku terkejut ketika Teblung mengeluarkan tempenya
“Hahahahahahah…. Blung yang kau bawa itu bukan tempe tetapi kedelai” ketika aku melihat yang dibawa oleh ternyata kedelai bukan tempe
“Looohh ini kedelai tapi belum dijadikan tempe” jawab si Teblung
“Lah terus kenapa kamu membawa kedelai”
“Tolooollll” sepontan keluar dari mulut Teblung
“Hahahahahahahahah” semua yang ada didekat tenda tertawa terbahak bahak.
Setelah selesai makan kami memasuki tenda masing masing dan mulai beristirahat disore hari karena tengah malam nanti ketika pendakian yang sebenarnya kami tidak kelelahan. Pendakian ke Mahameru memamng harus dilakukan pada malam hari karena dipuncak kita tidak bisa berlama lama. Hal itu disebabkan Kawah Junggring Saloko disebelah Mahameru kerap batuk batuk dan mengeluarkan gas beracun pada siang hari.Kami bangun dan bersiap siap, angin berhembus sangat kencang. Berdoa adalah suatu hal yang harus dilakukakn agar segalanya berjalan dengan baik dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Selepas berdoa, langkah kami mulai menyusuri menuju batas vegetasi terakhir, trek mulai berpasir
“Rek kalau memang tidak bisa menuju puncak jangan dipaksakan, puncak hanyalah bonus mendaki Gunung Semeru keselamatan kalian yang lebih utama karena keluarga kalian akan selalu menunggu kedatangan kalian” Sono yang memandangi puncak Mahameru.
“Semangaattt reekkkk” Londo berteriak begitu keras untuk memotivasi teman temannya
Hatiku begitu bergetar ketika menginjakkan kakiku dipasir Mahameru tak pernah terbayangkan sudah sejauh ini aku melangkah, dibenak ku hanya ada kalimat “Aku ingin melihat pemandangan indah dari puncak Mahameru”. Aku dan Londo terpisah dengan teman teman untuk jalan duluan, ditengah tengah perjalan kami beristirahat sejenak
” Ndo capek a ndo?” sambil kutayap wajah si Londo
“Dingin nuuuu, ayo kita tidur sebentar” jawab Londo
Kami pun mulai tertidur lelap padahal tertidur saat berada dipuncak sangatlah berbahaya. Londo bangun lebih dahulu dan membangunkanku, kami menyusuri medan yang mulai sulit ditambah dingin yang menerpa tubuh. Semua menjadi serba salah berhenti menggigil, berjalan melelahkan. Kami berjalan lagi dan lagi melawan rasa kantuk dan lelah. Tak terasa Langit mulai merah, dibatas cakrawala sang pagi melahap gelap malam, ada semangat yang memenuhi dada kami seolah olah langkah ini terasa ringan. Tetapi ada salah satu teman kami yang mengalami gejala hipotermia dan kami sempat bersih tegang
“Tolong rek tolong Nizar hipo” Nizar adalah adik dari Sono
Semua orang menghapiri adik dari Sono tersebut
“Sebaiknya kami tidak usah meneruskan perjalanan menuju puncak” ucap Sono kepada Nizar
” Tidak mass aku harus bisa menuju puncak”
“Tidaakkkkk, yang kau pertaruhkan bukan hanya tenaga mu ini sudah menyangkut nyawamu, kalau memang tidak bisa jangan dipaksakan”
“Aku sudah sampai sini aku tidak akan turun”
“Kamu itu kalau dibilangin yang nurut” dengan suara keras kepada Nizar
“Kenapa aku harus nurut kamu, ini untuk aku bukan untuk kamu”
“Tapi kita harus menjaga satu sama lain, kita harus selalu bersama sama”
Dengan nada geram dan emosi Sono melepaskan tanganya ke wajah. Semua orang terdiam.
“Yasudah dari pada kita seperti ini kita turuti saja apa yang dimau oleh Nizar” saranku kepadan teman teman
“Tetapi kalau sudah keadaan memang tidak bisa dipaksakam kita turun bersama sama”
Langkah demi langkah hingga akhirnya kami menginjakan kaki dipuncak Mahameru, negeri diatas awan. Ucapan pertama yang keluar didalam mulutku adalah ‘Alhamdulillah’ mensyukuri keidahan dari tuhan ini kami berfoto foto dan melihat lihat pemandangan dari atas. Tapi, kami tak bisa berlama lama dipuncak karena angin yang mulai berhembus sangat kencang membuat kami segera turun.
Setelah itu kami turun dengan perasaan campur aduk lelah, lega, bangga, bahagia dan sebagainya dan satu, rindu yang kubawa dari puncak akan selalu ada dalam kenanganku. Dihari yang sama kami memacu jalam kami dengan waktu, untuk mengambil kembali dokumen kami sebelum jam 18.00 WIB karena bila datang kembali sesudah jam tersebut kami harus menginap semalam di Ranu Pani untuk menunggu loket dibuka kembali. Kami mempercepat jalan dengan rasa yang lelah dan bahagia. Tibalah kami di Ranu Pani dengan membawa sampah kami kebawa sebagai syarat untuk pengambilan dokumen, setelah selesai mengambil kami segera pulang kerumah masing masing dengan membawa pengalaman yang sungguh indah, membawa rindu yang akan selalu ada didiriku dan banyak cerita yang harus kuceritakan kepada orang orang dirumah. Bahwa jangan pernah merasa menyerah dalam suatu keadaan dan satu puncak bukanlah tujuan saat mendaki gunung, tetapi rumah adalah tujuan mendaki gunung.

Biografi Penulis
Muhammmad Aditya Saputra
Biasa disapa “Adit” pemuda yang beruntung kelahiran 5 November 2001. Masih duduk dibangku SMA dan suka tertidur saat jam pelajaran dikelas. Adit mempunyai hobi bermain bola karena bola membuat sesorang menjadi sehat dan kecapek an. Tidak hanya bermain sepak bola, berkunjung ke warung kopi juga merupakan hobinya

LEAVE A REPLY