Menjelajahi Museum Tubuh Bagong

2
38

Hey sobat, mau nyambung cerita yang kemaren nih! Kemaren kan Auliya udah cerita sampai di agro wisata petik apel. Nah, sekarang mau aku lanjutin waktu aku sama temen-temenku di museum tubuh.

Setelah selesai perjalanan dari tempat petik apel menuju wilayah museum tubuh. Bus berhenti di area parkir dan kami berjalan ke halaman komplek musemu tubuh. Pertama, aku antri bersama teman-temanku yang lain. Tempat antrinya dibatasi pagar biar pada tertib dan teratur. Kami antri untuk mendapatkan gelangan tiket dari mbak-mbak petugasnya. Tiket gelang yang kami dapatkan adalah kunci masuk museum tubuh sekaligus tiket terusak selama kami berwisata di Jatim Park.

Saat tanganku sudah dikalungi tiket, aku masih bisa bersama teman-temanku. Namun ketika kami akan ikut masuk dalam ke museum tubuh, aku bersama kedua teman sekelasku-Nadia dan Rany- terpisah dari rombongan kawanku lainnya karena kloter kawanku itu udah gak cukup kalau ditambahin aku, Nadia, dan Rany. Jadi, mau gak mau kami harus menunggu dan ikut kloter belakangnya deh. Setelah giliran kloter kami, aku, Nadia dan Rany menunggu sebentar untuk menggunakan lift. Yang aku ingat, ada dua temanku yang juga satu kelas, dia Gading dan Mursid, yang juga ketinggalan kloter kawan kami.

Dan perempuan lainnya adalah dua siswi kelas 8e, yang aku lupa siapa namanya. Dan yang aku inget, sisanya adalah lelaki semua yang asal usulnya sebagian besar kelas 8h, dan sebagian dari 8e dan 8d. Namun aku gak tau persis berapa orangnya.

Giliran kami tiba, dua pintu lift terbuka. Dan semua aktifitas kami di museum sudah diatur oleh petugas sana. Pintu lift depan terbuka. Aku gak inget urutan persisnya kaya apa. Tapi aku inget, kalo museum tubuh memiliki 6 lantai. Kami diajak berkeliling menjelajahi berbagai zona tubuh manusia. 13 zona mulai dari Zona Otak, Mulut, Gigi, Telinga, Hidung, Mata, Paru-paru, Jantung, Hati, Usus besar, Usus Halus, Lambung, Pembuluh Darah, Tulang dan masih banyak zona yang lainnya. Kami tidak diajak menjelajahi zona reproduksi karena syaratnya hanya anak usia +15 tahun yang boleh masuk.

Jujur ya, yang aku rasakan dan aku fikirkan dari keseluruhan menjelajahi museum tubuh tuh sedikit gak nyaman. Karena disaat mbak-mbak atau mas-mas penunggu dari setiap zona-yang tugasnya menjelaskan kepada kami tentang zona tersebut-,, mereka itu cara menjelaskannya cepet banget. Terus tuh, seakan-akan kami diburu biar cepet paham dan langsung disuruh lanjut ke zona yang berikutnya. Terus kalau mereka nanya,, “Bagaimana? Ada yang belum paham?” sebeneranya aku mau njawab, aku belum paham apa yang kalian jelaskan. Tapi mereka udah keburu nutup, “Ok, baiklah. Silahkan lanjut ke zona berikutnya”. Terus tuh ya, setiap perjalanan di jalur menuju zona berikutnya, semua temen-temenku yang lain tuh jalannya cepet banget, padahalkan aku juga ingin menikmati karena setiap dinding, atap, ataupun alas/lantai, dari museum tubuh itu unik J. Semuanya seakan jelmaan dari setiap organ tubuh manusiaJ.

Tapi temen-temen semua gak pada bisa jalan, seakan mereka lari malahanL. Gak bisa menikmati sepenuh hati deh jadinya. Tapi gagapa deh, gak nyesel kok. This is my experiences, and i love my friends.

Selesai menjelajahi zona tubuh, kami mengunakan eskalator untuk meblai ke lantai semula dan aku pun bertemu dengan semua kawanku yang kebanyakan udah sampai duluan, namun ada juga beberapa kawanku yang masih tertinggal di kloter belakangku dan mereka baru sampai beberapa saat kemudian.

Setelahnya kami istirahat sebentar dan kami mampir ke cafe gigi. Cafe gigi bertempat di dalam museum, mungkin emang sengaja dibuat untuk tempat istirahat kali ya J. Sesudahnya, kami makan siang bersama pada jam 11.00 WIB. Aku duduk dekat Pak Fatah dan Pak Bambang. Ini makan yang mengasyikkan karena kami, siswa satu angkatan bersama guru pembimbing, bisa makan bersama. Hhmm, walau.. walauu.., lunch boxJ. Yang, yang… emmm,, gak jadi deh.. hehee.

Itu dulu deh ya, mungkin akan ada susulan artikel keseruanku di Jatim Park. Makanya, jangan bosen-bosen ya,, nyimak kisah Auliya. Daa, bye. Alvida! J

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY