MEMBANGUN GEMILANGNYA GENERASI BANGSA LEWAT SEBUAH TOLERANSI AGAMA YANG TERTANAM SEJAK DINI
Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai “Membangun Karya Nyata Teruntuk Indonesia”

Disusun oleh:
Sinta Ayudiya Ariani

SMA Negeri 1 Kepanjen
2018

Latar Belakang
Kata “Indonesia” berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu Indus yang merujuk kepada sungai Indus di India dan nesos yang berarti “pulau”. Jadi, kata Indonesia berarti wilayah “kepulauan India”, atau kepulauan yang berada di wilayah Hindia, ini merujuk kepada persamaan antara dua bangsa tersebut (India dan Indonesia). Republik Indonesia (RI), umumnya disebut Indonesia, adalah negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau, nama alternatif yang biasa dipakai adalah Nusantara. Dengan populasi Hampir 270.054.853 juta jiwa pada tahun 2018, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan lebih dari 230 juta jiwa. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih secara langsung.
Ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta. Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

     Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan,dll. Namun Indonesia mampu mepersatukan bebragai keragaman itu sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”,yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di daerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Agar keberagaman bangsa Indonesia juga menjadi sebuah kekuatan, kita bangun keberagaman bangsa Indonesia dengan dilandasi persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat yang menghormati keberagaman bangsa dalam wujud perilaku toleran terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat terhadap martabat manusia, hati nurani, dan keyakinan, serta keikhlasan sesama apa pun agama, suku, golongan, ideologi atau pandangannya. Maka untuk menumbuh kembangkan sikap toleransi perlu adanya penanaman sejak dini sehingga penulis memberikan gagasan yaitu MEMBANGUN GEMILANGNYA GENERASI BANGSA LEWAT SEBUAH TOLERANSI AGAMA YANG TERTANAM SEJAK DINI.

Urgensi Masalah
Secara garis besar masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah cara penanaman sikap toleransi kepada anak yang terkontaminasi oleh globalisasi dan isu SARA yang pada tahun terakhir ini beredar sangat luas.

Tujuan
Tujuan penulisan adalah: menganalisis sikap toleransi yang berkembang serta sistem strategi dalam permasalahan ini.

Tinjauan Pustaka
Social Progress Imperative merilis laporan tahunan Social Progress Index yang melihat kualitas kemajuan sosial suatu negara. Penilaian dilakukan atas tiga faktor utama, yaitu basic human needs, foundations of wellbeing, dan opportunity. Ketiga faktor tersebut dijumlahkan dengan angka 100 sebagai nilai tertinggi. Melihat tingkat toleransi di Indonesia, komponen yang disorot adalah toleransi dan inklusi yang terdapat dalam faktor opportunity. Skor yang tercatat dari 2014 hingga 2017 menunjukkan tren yang cenderung meningkat. Pada 2014, skor toleransi dan inklusi Indonesia adalah 27,90 dan naik pada 2015 menjadi 32,30. Namun, skor ini turun pada 2016 menjadi 29,57. Skor kembali naik menjadi 35,47 di tahun berikutnya, menempatkan Indonesia pada posisi 117 dari 128 negara di kategori tersebut.

Setara Institute mencatat 208 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan pada 2016 dengan 270 bentuk tindakan. Sebanyak 123 tindakan pelanggaran dilakukan oleh aktor negara dalam bentuk aktif, seperti pernyataan-pernyataan pejabat publik yang provokatif dan mengundang terjadinya kekerasan, dan 17 peristiwa merupakan tindakan pembiaran. Selain itu, terdapat 130 tindakan dilakukan oleh aktor non-negara dengan pelaku tertinggi adalah kelompok warga sebanyak 42 tindakan.

Pada 2017, terdapat 155 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan tercatat dengan 201 bentuk tindakan. Sebanyak 75 tindakan pelanggaran melibatkan aktor negara, yaitu 71 berbentuk tindakan aktif, 3 tindakan by rule, sementara 1 tindakan lainnya merupakan tindakan pembiaran. Sebanyak 126 tindakan dilakukan oleh aktor non-negara dengan pelaku tertinggi adalah kelompok warga, yakni 28 tindakan.
Pada tabel di bawah ini, terdapat beberapa kasus/peristiwa terkait praktik intoleransi di beberapa kota di Indonesia. Praktik-praktik intoleransi dimulai dari penyebaran informasi yang salah dan kebencian atas suatu kepercayaan, pembatasan hak asasi manusia terhadap kepercayaan tertentu, mendevaluasi agama/kepercayaan lain sebagai tidak berharga atau jahat, dan pembiaran terhadap kelompok intoleran. Praktik intoleransi di wilayah tertentu di Indonesia bisa juga muncul sebagai dampak dari berbagai faktor eksternal lain, seperti situasi pilkada.

di bawah menunjukkan persentase rumah tangga yang setuju/sangat setuju jika ada atau akan dibangun tempat ibadah agama lain di lingkungan tempat tinggal menurut provinsi. Rata-rata hanya 23,65% rumah tangga yang setuju/sangat setuju dengan ini.

Gambar 1. Tempat ibadah beda agama di lingkungan
Rata-rata 23,65% ini cukup rendah. Ingat juga bahwa pertanyaan yang diajukan cukup umum, tidak khusus menyinggung tempat ibadah agama tertentu, apalagi sekte agama tertentu. Tidak juga disinggung mengenai apakah ada izin atau tidak. Bahkan pertanyaannya juga mencakup tempat ibadah, bukan hanya membayangkan apabila akan dibangun sebuah tempat ibadah.
Sementara itu gambar 2 menunjukkan scatterplot dari:
1. proporsi pemeluk agama Islam terhadap total populasi (sumbu vertikal) yang diambil dari Sensus Penduduk 2010;
2. indeks toleransi yang merupakan rata-rata skor dari respons keempat pertanyaan mengenai agama di atas (sumbu horizontal)
Sembilan dari 17 provinsi yang nilai indeks toleransinya di atas rata-rata (warna merah) adalah provinsi-provinsi yang proporsi pemeluk agama non-Islamnya paling tidak 25% dari total penduduk. Artinya, dominasi warga muslim berkorelasi dengan rendahnya tingkat toleransi beragama di provinsi tersebut. Korelasinya sangat tinggi, -0,69.

Gambar 2. Toleransi dan pemeluk agama Islam
Tentu saja ini semua hanya sebuah potret (tiga tahun lalu!), bukan sebuah kesimpulan akhir. Tapi dari potret ini kita sudah sepatutnya untuk khawatir. Bagaimana tidak? Jika politik identitas adalah pupuk bagi sikap intoleran, maka intoleransi akan mudah untuk tumbuh subur di masyarakat kita yang sudah memiliki bibit intoleransi beragama yang tidak sedikit.
Terakhir, sikap bertoleransi adalah tanggung jawab siapapun. Namun fakta bahwa provinsi yang mayoritas muslim memiliki tingkat toleransi yang rendah menunjukkan bahwa pekerjaan rumah terbesar dimiliki saya dan kita yang mengaku beragama Islam. Menanggapi banyaknya komentar mengenai pertanyaan menikah beda agama, BPS tidak menjelaskan secara khusus kenapa persoalan menikah beda agama ditanyakan.
“Sikap menentang pernikahan berbeda agama tersebut didasari atas sikap religi bangsa Indonesia yang cukup kuat, dimana nilai agama yang dianut oleh Bangsa Indonesia memiliki norma yang mengatur untuk tidak menikah dengan orang yang berbeda iman.”
Lalu apa yang terjadi jika pertanyaan mengenai pernikahan beda agama dikecualikan? Rata-rata tingkat toleransi meningkat dari 2,02 menjadi 2,23. Angka ini masih rendah karena angka 2 merujuk pada jawaban “Kurang setuju”. Selain itu meskipun angka korelasi sedikit turun (secara absolut) dari -0,69 menjadi -0,59 (gambar 3), namun angka korelasi ini masih cukup tinggi.

Gambar 3. Toleransi (excl. nikah beda agama) dan pemeluk agama Islam

Kesimpulan dan Rekomendasi
Toleransi memang sudah menjadi daya paten oleh ciri khas Indonesia yang harus senantiasa dilestarikan dan ajarkan secara turun temurun terutama toleransi beragama yang mana hal ini terkesan sensitif dan rentan akan timbulnya konflik. Bunyi lengkap Pasal 29 ayat (2) adalah “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.
Dalam kehidupan berbangsa, seperti kita ketahui keberagaman dalam agama itu benar-benar terjadi. Agama tidak mengajarkan untuk memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Oleh karena itu, bentuk perilaku kehidupan dalam keberagaman agama di antaranya diwujudkan dalam bentuk:
• menghormati agama yang diyakini oleh orang lain;
• tidak memaksakan keyakinan agama kita kepada orang yang berbeda agama;
• bersikap toleran terhadap keyakinan dan ibadah yang dilaksanakan oleh yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda
• melaksanakan ajaran agama dengan baik; serta
• tidak memandang rendah dan tidak menyalahkan agama yang berbeda dan dianut oleh orang lain.
Perilaku baik dalam kehidupan beragama tersebut sebaiknya kita laksanakan, baik dikeluarganya, sekolah, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia https://kekayaanindonesiaku.blogspot.co.id/p/kekayaan-dan-keragaman-indonesia.html https://www.plengdut.com/perilaku-toleran-terhadap-keberagaman/238/ https://ryansan.wordpress.com/2017/05/12/potret-toleransi-beragama-di-indonesia/
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/29/sejuta-kekayaan-bangsa

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY