Jangan Pernah Bersandar pada Amal

0
41

Jangan Pernah Bersandar Pada Amal

Suatu hari saya menghadiri sebuah majlis taklim. Hal itu biasa saya lakukan agar hidup ini bisa balanced. Tidak hanya raga yang memerlukan makanan, tetapi jiwa atau ruh kitapun membutuhkan pupuk dan air mineral untuk menyirami. Supaya tidak mengering dan menjadi keras.

Ada sebuah cerita yang menarik dari majelis itu. Empat orang pria dengan karakter yang berbeda sedang berbincang-bincang tentang mal ibadah mereka & kesuksesan yang didapatkan

Pria ke-1 berkata:

“Alhamdulillah, sejak sering Shalat Dhuha rezeki menjadi lancar dan bisnis saya berkembang pesat. Sebentar lagi anak saya lulus SMA, rencananya akan sekolah ke luar negeri”.

Pria ke-2 berkata:

“Bukan main, hebat sekali, sejak aku naik Haji ibadahku semakin rajin. Alhamdulillah anakku juga sukses, aset kekayaannya juga bertambah. Aku sangat bangga, itu semua berkat do’a saya di Mekkah dulu”.

Pria ke-3 berkata:

“Masha Allah sungguh nikmat tak terkira sejak, rajin berpuasa dan bersedekah rezeki datang bagaikan sungai mengalir, tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah diluar negeri dan langsung diterima menjadi staff khusus menteri”.

Pria ke-4 mazih diam saja tidak berkomentar apa-apa. Ketiga pria tersebut kemudian melirik ke arahnya. Salah satu dari mereka bertanya kepada pria ke-4,

“Bagaimana dirimu? Kawan, mengapa kamu hanya diam saja?”

Dengan lirih, pria ke-4 berkata,

“Saya tidak sehebat kalian, jangankan kesuksesan, bahkan sayapun tidak tahu apakah ibadah yang saya lakukan selama ini diterima oleh Allah SWT atau tidak. Saya hanya bisa mengetahui dan setelah saya meninggal nanti. Jadi maaf, saya merasa belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang Allah berikan kepada saya”.

Serasa disambar petir, ketiga orang tadinya nampak sombong kini tertunduk lesu. Mereka langsung beristighfar atas rasa ujub dan riya yang telah mereka perbuat.

Nilai yang bisa saya petik:

○Jangan bersandar pada amal, sebab sikap ini secara berlebih akan melahirkan rasa Kepuasan, Kebanggaan, dan Akhlak Buruk kepada Allah Ta’ala.

○Kita tidak tahu apakah amal ibadah kita diterima Allah atau tidak, maka kita harus ikhlas.

○Kita wajib bersyukur kepada Allah

○Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan Rahmat ALLAH.

○ALLAH tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-NYA. Dia Maha Kaya, Tidak Butuh kepada makhluk-NYA. Kitalah yang Butuh kepada-NYA.

Petikan hadits dari Abu Hurairah:

*Sungguh Amal seseorang tidak akan memasukannya ke dalam Surga.”

Mereka bertanya:

“Tidak pula engkau ya Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Tidak pula saya. Hanya saja ALLAH meliputiku dengan Karunia dan Rahmat-NYA. Karenanya Berlakulah Benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan Berlakulah Sedang (tidak berlebihan dalam Ibadah dan tidak kendor atau lemah).”

_(HR. Bukhari dan Muslim)_

Wallahu A’lam Bish Shawwa

Sumber: Kajian Sunnah

LEAVE A REPLY