Gadis Pengejar Bintang

0
8

“Apa salahku sih?” rengeknya seraya mencurahkannya pada alam.
“Tut tut!” Suara kereta api yang terdengar tak begitu jauh dari tempat duduknya, hembusan angin sore dan hamparan sawah hijau menambah derasnya perasaan di hatinya. Terbayang kejadian yang membuatnya semakin hanyut.
“Brak!! Apa lagi yang kurang?” tanya Ayu pada dirinya sendiri.
“Ayu, sudah cukup. Kau ini mau ke asrama apa mau pindah rumah sih?” Seru ibunya.
Ayu adalah gadis mungil berkacamata yang selalu ambisi dan ingin lebih. Ia sedang menyiapkan barang yang akan ia bawa ke asrama. Karena besok ia sudah mulai masuk sekolah favoritnya.
“Allohuakbar Allohuakbar!!” Adzan subuh yang sudah berkumandang cukup merdu untuk didengar yang membuat Ayu kaget dan terbangun dari tidurnya.
“Astaga, telat!” Serunya, ia harus segera bersiap diri karena mengingat jarak rumahnya ke kota terbilang cukup jauh.
“it’s time to begin the firts lesson!!” Suara bel berdering
Pertama ia masuk kelas, semua murid seakan menjadi hantu mengincarnya dengan tatapan yang menjurus kepadanya dengan tajam.
“Assalamualaikum perkenalan dulu ya,” Sapa seorang guru.
“Saya Marlena Ayudiyah Sarasvati, tinggal di Desa Tempurayu” Kata Ayu di depan kelas.
“Hahahaha, apa ini!” Gelak tawa menyelinap
“medok woy!” seru seorang anak perempuan. Ayu pun tertunduk diam.
Hari berganti hari, ia semakin minder dengannya
“Pindah sekolah aja besok ayahmu biar ke SMA baru buat daftarkan kamu” Kata ibunya. Ia bingung, karena di sisi lain ia tak ingin memutuskan impiannya tersebut untuk meraih prestasi di sekolah favoritnya.
“Kamu kenapa murung terus” Kata Putri teman satu organisasinya.
Ia terdiam, bingung harus menceritakannya atau tidak tapi jika tidak diceritakan lalu dengan siapa lagi ia bercerita, akhirnya ia memutuskan untuk bercerita kepada Putri. Putri pun memeluk Ayu, seakan Putri dapat merasakan perasaan yang dialami oleh Ayu, disambung rintikan hujan yang sedari tadi menjatuhkan dirinya seraya ikut merasakan yang dialami oleh Ayu.
“Braakk!” Ayu terjatuh. “Santai dong, jalan itu pakai mata!” Suara kasar itu dari Arya, cowok yang ia sukai di sekolah ini walaupun kasar, labil dan kadang juga egois.
“Kau tak sepantasnya kasar sama Ayu” Suara cuek tapi baik. Ia adalah cowok keren karena penampilannya. Ayu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Ayu sangat sedih sekali diperlakukan demikian, baginya ini sangat keterlaluan tapi di sisi lain ia bahagia bisa bertemu dengan Arya walaupun dia kasar, “Aku sebenarnya tau Ayu itu suka sama aku, makanya aku selalu menyakiti dia karena aku jijik sama dia, kampungan!” Seru Arya pada Nanda.
“Arya kan itu?”nia sedang bersama cewek dan bergandengan tangan. Ia berlari pulang dengan bendungan air mata yang sedari tadi ingin menetes deras.
2 minggu telah berlalu, namun Ayu tetap bersikeras tak ingin masuk sekolah, ia trauma dengan kejadian itu.
“Ting tong Ayu..!” Suara bel rumah berdering.
Nanda melihat Ayu yang terbaring lemah. “Kamu ngapain di sini?” tanya Ayu.
“Jenguk kamu lah” sahut Nanda “Aku sedih, aku bingung sekarang harus bagaimana?” linangan air mata pun kembali meluncur deras. Nanda kemudian memeluk tubuh mungil Ayu seraya sambil bicara “Tenang Ayu, aku di sini, gak usah khawatir.” Bisik Nanda.
“Ayu maafin aku ya masih pagi begini ganggu kamu tidur, aku tadi dapat pesan kalau kita dapat tugas proyek.” Isi pesan Putri
Keesokan harinya
“Kalian kenapa? Muka kaya jemuran basah” seru Nanda terlihat mengamati Ayu dan Arya, ia tahu Ayu suka sama Arya tapi saat ini tidak menunjukkan rasa simpatinya ke Arya.
“Bantuin apa susahnya sih, jangan cuma nyuruh, aku juga punya perasaan gak kaya kamu!” seru Ayu yang menunjukkan muka marahnya ke Arya.
“Stoopp!! Kalian kenapa sih!” bentak Putri
“Sudahlah, gak pantas harus musuhan begini, kita ini satu kelompok kalau kita gak kompak apalagi ada yang bermusuhan ya gak bakalan maksimal, atau gak usah kerja kelompok aja, aku mengundurkan diri saja kalau kalian tetap seperti ini!” Nanda yang tadinya cuek akhirnya angkat bicara yang mulai tersulut emosinya.
“Iya Nda aku minta maaf, maafin aku juga ya Arya!” kata Ayu
“Arya tulis ya, suka yaitu antara…”
“Antara hatiku dan hatimu!” goda Nanda kepada Ayu.
Gelak tawa pun mulai terdengar. “Lak nguawur a senengane!” sambung Putri yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya sendiri. Tugas selesai, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang, tapi tidak dengan Nanda. Ia kemudian menarik tangan Ayu dan membawanya ke taman belakang. “Aku mau ngomong sama kamu” bisik Nanda.
“Besok kan bisa, ini sudah malam kamu harusnya pulang.” Seru Ayu.
“Ay, aku suka kamu sejak lama” bisik Nanda lembut.” Seketika suasana hening. “Kamu sahabat terbaikku, aku sayang kamu tapi sebatas sahabat.” Jawab Ayu sambil memegang tangan Nanda yang terasa dingin. Kemudian, Nanda melepaskan tangan Ayu.
“Gubrakk!” tragedi mengenaskan menimpa Nanda, ia menjadi korban tabrak lari. Mendengar berita yang menimpa Nanda ia merasa bersalah.
Setelah dokter keluar ia bergegas masuk “Kamu kenapa, maafin aku Nda aku gak bermaksud gitu sama kamu” air mata pun perlahan jatuh, melihat Nanda yang terbaring lemas.
“Aku gak papa” singkat Nanda.
“Ternyata Ayu cantik juga, seandainya saja dulu aku tak jahat sama dia” kata Arya dalam hati.
Keesokan di pentas teater
“Braak!!” Suara yang cukup keras membuat Ayu kesakitan,
“Aduhh sakiitt…” Rintih Ayu
“kamu gak papa kan?” Sahut cowok itu
“Deg!” Suara jantung Ayu
“Oh maaf, aku Billy yang kebetulan ketua di teater, kamu siapa?” Tanya cowok itu
“A..Ay..Ayu.” suaranya terlihat gagap.
“Oh Ayu, cantik sama seperti orangnya” Godanya
Melelehlah hati Ayu.
Rupanya Ayu mulai merasakan getaran yang menjalar di tubuhnya. Setelah saat kejadian itu ia mencari keberadaan Billy kemana mana, namun hasilnya tetap nihil. Karena saat ia sudah dapat luluh dengan cinta, cinta tersebut malah menghilang tanpa jejak dan itu menyakitkan baginya. Ia baru pertama kali merasakan cinta yang sekejap mata.
“Billy, kamu kemana sih. Aku sayang kamu!!!”
Cinta pandangan pertama
Mereka tidak menceritakanmu ketika kamu jatuh cinta pada cinta pertamanya, Kadang ini adalah sebuah ujian bagaimana kamu membayar ketika kamu berjalan melewati api. Dan mereka tidak pernah menceritakan satupun pernah keluar dari mereka
Sinta Ayudiya Ariani nama seorang siswi SMA Negeri 1 Kepanjen kelas 12 Bahasa yang terlahir di Malang, 24 Maret 2001. Bermimpi menjadi seorang sastrawati dan membanggakan kedua orang tuanya. Tinggal di desa kecil yaitu Donomulyo. Ingin dihargai saja bukan dipuji apalagi di sanjung.
Email Sintaayudiya11@gmail.com
Nomor telepon 082231564737
Instagram @sintaayudiya

LEAVE A REPLY