Cerpen: Desa Tabek Patah Pagi Hari

0
18

Saat terbangun di pagi hari, aku membuka jendela udara segar dan sejuk pun masuk ke dalam kamarku. Masih terlihat embun pagi menyelimuti bunga-bunga yang ada di sebelah rumah kakek dan nenekku, awan pun masih menutupi puncak pegunungan yang ada di sekitar Desa Tabek Patah ini, desa ini merupakan kampung halaman papaku. Desa ini juga terletak di Kec. Salimpaung Kab. Tanah Datar Sumatera Barat. Setelah cukup lama aku berdiri di depan jendela, aku pun bergegas untuk  membersihkan diri. Kemudian aku di ajak oleh saudaraku yang bernama Sara untuk jalan-jalan ke hutan Pinus yang jaraknya tidaklah jauh dari rumah.

“ Han kamu sudah selesai mandikan? Ayo kita jalan-jalan ke hutan Pinus, kamu kan sudah lama gak pulang.” Antusias Sara mengajakku.

“ Sudah dong, ayo aku juga penasaran apa saja yang berubah di sini” jawabku dengan penuh semangat.

“oke, aku ajak yang lain juga ya? Rayhan, Hafis, Sandri, Kak Naca, Afgan.”

“ Tidak masalah, tambah banyak tambah seru kali” jawabku santai

“ Tunggu aja di depan halaman.” Ujar Sara sambil berlari-lari kecil ke kamar untuk mengajak saudaraku yang lainnya.

Tidak lama aku menunggu, saudara-saudaraku pun datang dan menghampiriku yang sedang bermain Hp, dengan santainya mereka mengejutkanku dan membuat Hpku hampir jatuh, mereka pun tertawa karena melihat ekspresiku yang sedikit kesal. Setelah semuanya siap kami pun bergegas untuk pergi. Kami mengendarai sepeda motor, aku berboncengan dengan Rayhan, sedangkan yang lain Hafis dengan Sara, Afgan dengan Sandri, sedangkan kak Naca sendirian karena dia paling tua di antara kami bertujuh. Dalam perjalanan Rayhan bertanya kepadaku, dengan aku yang melihat dia melalui kaca spion.

“ Han kamu udah punya pacar belum sih??? “ aku pun menahan tawa karena dia tiba-tiba bertanya tentang itu, dan secara refleks aku mencubit pinggangnya, dan motor yang kami tumpangi agak goyang, karena Rayhan merasa sakit dan geli. Sedangkan di belakang kami kan Naca memarahi kami karena bercanda di jalan apa lagi sedang menaiki motor.

“ Hana Rayhan kalian jangan bercanda!!! “ dengan sedikit membesarkan matanya aku pun merasa aneh melihat kak Naca dengan ekspresi seperti itu.

Kemudian aku agak mendekat ke telinga Rayhan dan ngomong seperti orang yang sedang berbisik

“ Kamu sih Ray tiba-tiba tanya itu kan aku jadi refleks mencubit kamu, jadi  di marahi  kak Naca kan. “melihat mukaku yang manyun melalui kaca spion Rayhan pun Meminta maaf.

“ ya sorry kali Han, kan aku juga pengentahu tentang kamu.”

Melihat mimik mukanya yang lucu, aku pun tidak kalau tidak memaafkan Rayhan.

“ Iya-iya santai aja kali, iya deh aku kasih tau. Aku belum punya pacar kan masih kecil.” Rayhan sedikit tersenyum, mendengar kata-kataku, dan seakan tidak percaya dia terus memancingku tentang hal itu.

“ Masa iya Han, cewek secantik kamu gak punya pacar??? “ mendengar pertanyaan itu, aku hampir memukul punggung Rayhan, karena merasa kesel dia terus menggodaku. Tiba-tiba Sara dan Hafis menyamai motor yang aku tumpangi dengan Rayhan, dan aku pun tidak jadi memukul Rayhan. Sara ngomong kepada Rayhan dengan nada suara yang sedikit keras dan menggoda.

“ udah Ray, jangan di goda terus Hana nyatuh lihat pipinya merah. “. Setelah berkata itu dan tidak mendengarkan tanggapan Rayhan, Hafis pun memacu motornya berada di depan aku dan Rayhan. Dari belakang kelihatan sekali mereka berdua tertawa ketika melihat ekspresiku yang langsung menutupi kedua pipiku dengan tangan. Rayhan juga tertawa tetapi dia berusaha menutupinya.

“ udah Han, jangan dengerin Sara, diakan emanggitu.” Aku pun berusaha mengembalikan ekspresi mukaku setelah panik tadi, dan kali ini aku tidak menjawab Rayhan, aku memutuskan untuk diam saja.

Tidak lama setelah itu kami pun tiba di hutan Pinus, sesudah memarkirkan motor, Sara menghampiriku.

“ Han maaf ya, tadi aku Cuma bercanda. “

“ iya-iya aku juga tahu, jadi santai aja.” Jawabku dengan sedikit tersenyum, kemudian kak Naca memotong pembicaraan aku dan Sara.

“ ya udah ayo kita jalan, ngapain di sini lama-lama? “

“ ayo aku gak sabar nih, pengen foto-foto biasa anak Hits.”

Sandri dengan pedenya mengatakan kata-kata yang terakhir kalau dia Hits. Hafis pun tidak mau kalah, dan tidak terima pernyataan Sandri.

“pede amat lu San, sama gua aja masih banyakan gua followersnya di instagram.” Bantah Hafis yang kemudian menyikut tangan Sandri.

Sara yang tadinya berdiri di sampingku tiba-tiba berjalan menuju ke arah Sandri dan Hafis,

“ Oh hello….. pleasedeh, di sini aku yang paling banyak penggemarnya jadi biasa aja ya kalian.” Setelah bicara seperti itu dan mengeluarkan lidahnya sedikit Sara langsung meninggalkan kami dan berjalan duluan. Aku, kak Naca, Afgan dan Rayhan hanya bisa geleng-geleng melihat ketiga saudara kami itu. Sedangkan Hafis dan Sandri hanya terdiam dan tidak terima apa yang sara katakan.

Setelah itu kami pun memutuskan untuk mengikuti Sara sebelum kejauhan, dan aku hanya mengikuti mereka seperti ekor. Karena aku tidak tahu jalan mana yang akan di lewati, lebih-lebih ini di hutan. Ini adalah pertama kalinya aku ke hutan Pinus di kampung halaman papaku. Aku sangat senang bisa kesini karena udaranya sangat sejuk apa lagi hutan ini dekat dengan pegunungan membuat udara dan pemandangannya asri dengan ke adaan alamnya. Di sini juga terdapat beberapa rumah pohon, yang sengaja di buat untuk selfie-selfie oleh pengunjung. Saat melihat-lihat rumah pohon yang unik-unik seperti berbentuk jamur, ukiran-ukiran dan sebagainya, di sini juga terdapat beberapa ayunan. Saat melihat-lihat rumah pohon aku tidak sengaja menginjak tali sepatuku, aku pun memegang tangan Rayhan untuk menungguku sebentar membenarkan tali sepatuku, karena hanya ada dia yang ada di dekatku, yang lain sudah duluan jalan di depan.

“Ray tunggu sebentar, tali sepatuku lepas, awas jangan tinggalinlho!!”  ujarku sambil membesarkan mata agar Rayhan gak membantahku.

“ iya-iya han, tenang aja pasti aku tungguin kok.” Balas Rayhan dengan sedikit memberi senyuman serta mengedipkan satu matanya.

Saat selesai membenarkan tali sepatuku, benar saja dugaanku kalau saudara-saudaraku yang lain meninggalkan aku karena mereka asik sendiri, tapi untung aja tadi aku meminta Rayhan menungguku supaya gak kesasar kalau ditinggalin yang lain.

“  tuh kan, bener dugaanku kalau mereka gaktau kalau kita ditinggalin di belakang.” Ujarku sambil cemberut karena merasa kesal

“ gak papa Han kan masih ada aku, hehehe. “ jawab Rayhan dengan sedikit tertawa berusaha menghiburku.

Tidak lama setelah itu Afgan meneleponku mungkin mereka baru sadar kalau aku dan Rayhan menghilang, karena hanya Afgan yang mempunyai nomorku. Aku pun segera mengangkatnya.

“ Han kamu di mana kok ngilang? Tapi kamu sama Rayhan  kan gak sendirian???” dari nada suaranya kedengeran sih kalau dia cemas dan khawatir.

“ tadi tali sepatuku lepas terus aku betulin, tapi untuk aja tadi aku meminta Rayhan untuk menunggu, kalau gak pasti udah kebingungan mau ke mana.” Jelasku panjang lebar.

Tiba-tiba kak Naca menanyakan keberadaan aku dan Rayhan, dengan suaranya yang cempreng.

“ terus sekarang kalian di mana? “  karena volume Hp  aku full Rayhan pun menjawab pertanyaan kak Naca.

“ Ginideh kak, gimana kalau kita ketemuan di tempat parkir ajakan malah gampang.” Ujar Rayhan dengan solusi cemerlangnya.

“ oke lah, kita ketemuan di sana, kalian hati-hati,” sambung kak Naca dan menutup teleponnya tanpa ,mendengarkantanggapan kami berdua.

Setelah memasukkan Hp ke dalam saku celanaku, kami pun mulai berjalan menuju ke tempat parkiran, tetapi karena kami berjalan dengan santai aku pun meminta Rayhan untuk memfotoku beberapa kali. Sekitar 10 menit akhirnya aku dan Rayhan tiba di tempat parkir, aku pun sudah melihat yang lain sedang menunggu kami. Sesampainya di sana, kita langsung bergabung dengan yang lain, kak Naca yang khawatir aku kenapa-kenapa dia langsung memutar-mutar tubuhku, karena dia yang paling besar di antara kami jadi kalau kenapa-kenapa pasti dia yang kena tegur.

“ udah kali kak, kasihantuh hananya di puter-puter terus.” Ucap Hafis dan kak Naca pun langsung berhenti dan menyambung ucapan Hafis.

“ ya iyalah kakak khawatir kamu tahu sendirikan Hana baru pulang nanti kalau dia kenapa-kenapa pasti kakak yang di marahi bukan kalian.” Jelas kak Naca dan membuat kami semua diam. Saat semuanya terdiam mendengar ceramah dari kak Naca aku justru malah melamun. Kemudian Afgan mengagetkanku dengan melambaikan tangannya di depan mukaku.

“ Hana!!! Kok mengelam sih, kenapa? “ dengan nada suara yang keras sontak saja aku kaget dan membalasnya dengan teriakan.

Rayhan, Sandri, Sara, Hafis dan kak Naca menertawakankukarena melihat Afgan yang kaget karena aku teriak serta ekspresiku yang panik. Setelah kami tertawa dengan kegembiraan Sandri mempunyai ide, ke mana tujuan kita selanjutnya.

“ gimana kalau kita sekarang makan di tempat biasa, udahlapernih. Jam 11.30 WIB waktunya makan siang.” Ujarnya sambil mengelus-ngelus perutnya yang kelaparan dan menyebutkan secara spesifik tentang jam makan siang.

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah aneh dari saudaraku yang satu ini.

“ tapi kamu yang traktir ya San??? “ goda Afgan yang seketika langsung mengubah mimik muka Sandri jadi kesal. Tetapi kak Naca tidak setuju dengan ide Sandri.

“ Gah ah… ngapain kita makan di luar, mending kita pulang aja. Pasti di rumah masak banyak, kan anak sama cucu kesayangan kakek nenek baru pulang.” Ujar kak  Naca sambil menatapku dan sedikit tersenyum.

Aku pun membalas senyumnya karena aku tahu yang dimaksud kak Naca adalah papaku dan aku.

“ iya juga sih, pasti banyak macam-macam masakan di rumah.” Sambung Sara yang sedang merapikan rambutnya. Afgan pun mengajak kami semua untuk pulang.

“ ya udahtunggu apa lagi.” Dari cara bicaranya ketahuan sih, kalau Afgan ini sifatnya agak dingin.

Huust…. tapi gimana pun juga dia tetap saudaraku yang paling ganteng dan cool, hehehe…. Akhirnya kami pun sepakat untuk pulang, tetapi Sandri masih kelihatan kesel karena idenya tidak di terima.

“ kalau Sandri masih cemberut tinggal aja dia di sini.” Ujar Hafis sambil menyenggol tangan Sandri.

“ jangan gitu kalian sama Sandri, tapi emangbener kok. Tinggal ajanih anak di sini dari pada bikin susah.”  Tambah Afgan yang membuat Sandri tambah emosi. Kemudian kak Naca memberhentikan Hafis dan Afgan yang terus memojokkan Sandri.

“udah Hafis Afgan jangan di bikin tambah kesel Sandarinya.”

“ yauudah ayo pulang kalau gini jadi buang-buang waktu, emangmau tidur di sini hah??? “ Rayhan berusaha mengembalikan suasana hati Sandri degan candanya.

“ ya enggaklah, kamu aja sendirian Ray gak usah ngajak-ngajak.” Jawab Sara ketus,

Akhirnya aku membuka mulut setelah menyaksikan pertengkaran kecil antara saudara ini, yang membuatku kewalahan menahan tawa.

“ ayo dong pulang, Hana sudah laper!!! “ ujarku degan muka yang di sok imut-imut.

“ iya ndut sabar, bentar lagi pulang.” Jawab Rayhan sambil mencubit pipiku.

Dan kali ini aku yang merasa kesal, karena aku paling gak suka kalau di panggil “ NDUT “ walaupun kenyataannya emangbener sih, tapi gaksegitunya juga. Aku memilih untuk diam dan cemberut tidak menanggapi jawaban Rayhan. Setelah naik motor kami pun mulai perjalanan pulang ke rumah. Selama di perjalanan aku hanya diam karena masih kesal gara-gara tadi, kata-kata yang singkat tapi menusuk bagiku. Sesekali aku melirik ke kaca spion melihat Rayhan, tetapi dia sepertinya tidak merasa bersalah.

Sesampainya di rumah jam menunjukkan pukul 12.30 WIB, aku langsung berpamitan kepada saudara-saudaraku untuk masuk ke dalam rumah duluan.

“ eh… aku duluan ya  masuk mau ganti baju dulu sama istirahat sebentar.” Ujarku dengan sedikit menunjukkan muka yang malas dan lelah.

“ oke Han gak papa duluanaja.” Balas Sandri yang sekarang tampaknya sudah tidak kesal lagi.

Kemudian aku mulai berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka yang masih mengobrol di halaman dekat motor. Tujuanku saat ini adalah kamar terutama kasur, karena aku sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak. Setelah berbaring sejenak, tiba-tiba ada yang mengagetkanku dengan mengetuk pintu kamar. “ tok… tok… tok…!!! “

“ Hana ini aku kak Qori.” Suara itu tidak asing lagi untukku, dia adalah kakak sepupuku yang paling besar.

“ oh… iya kak, masuk ajagak di kunci kok “ jawabku menyuruh kak Qori masuk.

Setelah kak Qori membuka pintu kamarku, aku pun segera duduk dan merapikan rambutku. Sedangkan kak Qori hanya berdiri di depan pintu.

“ ayo Han makan siang, semuanya udah kumpul. “ ajak kak Qori dengan menarik tanganku tanpa mendengar tanggapanku.

Sesampainya di ruang makan aku pun langsung duduk dan mengambil nasi dan lauk yang ada di depanku, karena yang lain sudah memulai makan, tinggal aku dan kak Qori. Suasana ruang makan pun terasa sangat hangat dengan kekeluargaan. Selesai makan bersama aku dan saudara-saudaraku yang lainnya memilih untuk di depan teras rumah, sambil bercanda dan mengobrol. Karena di dalam rumah nenek kakek sedang berbincang-bincang dengan anak-anaknya serta menantunya, kami para cucunya memutuskan di luar takut mengganggu. Di sela-sela canda tawa kami, aku satu persatu meminta nomor Hp saudara-saudaraku untuk berkomunikasi jika aku sudah kembali lagi ke Jawa Tengah. Pertamanya aku meminta nomor Rayhan, karena sudah jelas selama di sini aku lebih dekat dengan Rayhan dari pada yang lain, bahkan hampir setiap hari kami cerita atau kadang curhat, hehehe….. Setelah Rayhan aku meminta nomor Hp saudaraku yang lainnya. Bahkan sampai sekarang aku sudah kembali ke Jawa Tengah kami masih berkomunikasi. Walau pun sempat di tahun-tahun sebelumnya kami putus komunikasi.

Karya: Hanna Riskiani-9b SMPN 5 Ambarawa

LEAVE A REPLY