CIUM TANGAN UNTUK PAK BON

0
31

Aliya Khoirunnisa, sebuah nama yang indah seindah kepribadiannya. Dia yang biasa dipanggil Aliya aktif dalam organisasi sekolah, baik dalam OSIS, kepramukaan, dan ekstrakulikuler. Ia pun mendapat amanat sebagai ketua kelas.

Pagi itu, cuaca kurang bersahabat. Hujan gerimis tak menghalangi Aliya berangkat sekolah. Di pintu gerbang guru piket dankaryawan telah menyambut siswa-siswi yang datang. Mereka berjajar berjabat tangan dengan siswa.

“Selamat pagi, BU, Pak!” sapa Aliya sambil mencium tangan mereka.

“Selamat pagi juga, Nak!” jawab guru dan karyawan.

Aliya berlari-lari kecil menuju kelasnya. Sebelum sampai di kelas Aliya bertemu dengan Pak Bon sekolah. Aliya bergegas menghampiri Pak Bon lalu mengucapkan salam dan mencium tangan Pak Bon.

“Selamat pagi, Pak!” sapa Aliya kepada Pak Bon.

Pak Bon terkejut karena sedang menyapu dan tidak melihat kehadiran Aliya. Pak Bon tersenyum.

“Selamat pagi juga, Nak! Pagi benar berangkatnya?”

“Iya Pak. Ada piket kelas pagi ini. Maaf Pak, Saya masuk kelas dulu. Silahkan Bapak melanjutkan pekerjaan.”

“Iya nak, terimakasih.”

Di persimpangan jalan Aliya bertemu dengan Martha.

“Hai Martha, pagi!”

“Pagi juga!.” Jawab Martha ketus.

Aliya ingin menjabat tangan sahabatnya itu, tapi ditepis oleh Martha.

“Jangan sentuh tanganku! Tanganmu kotor, tadi kamu berjabat tangan dengan pak Bon, kan? Kamu itu ‘ndesit’, “ cibir Martha.

“Apa ‘ndesit; itu Martha?”

“ ‘Ndesit’ itu ndeso. Maunya kamu berjabat tangan dengan Pak Bon. Padahal Pak Bon itu kan kotor penuh dengan kuman. Coba kalau kamu kena kuman dari tangan Pak Bon dan kamu sakit. Kalau aku sih, sori aja! Enggak level.”

“Martha kenaoa kamu bilang begitu? Apa salah Pak Bon? Pak Bon juga patut untuk dihargai. Coba kalau tidak ada Pak Bon, siapa yang akan membersihkan dan memperindah sekolah ini, sehingga kita nyaman di sini?”

“Kita kan dari kalangan berada. Kenapa kamu bergaul dengan Pak Bon? Apa kamu tidak takut harga dirimu jatuh? Harusnya kita jaga jarak dengan orang seperti mereka.”

“Kenapa harus takut? Orang tuaku selalu mengajarkan sopan santun kepada siapapun, apalagi orang yang lebih tua dari kita. Ya semua terserah kamu. Aku tidak akan meninggalkan apa yang telah diajarkan orang tuaku.”

Sejak saat itu persahabatan antara Aliya dengan Martha mulai merenggang.

Tet… Tet… Tet…

Bel tanda masuk berbunyi, saat ini pelajaran Bahasa Jawa yang diampu oleh Bu Rochimah. Pelajaran berjalan dengan normal seperti biasa.

Ketika Bu Rochimah menerangkan materi tata krama, Martha menatap sinis Aliya karena dia merasa semua orang berpandangan seperti Aliya yang memandang orang sama derajatnya.

*******

Siang itu, raja siang benar-benar tidak bersahabat. Ia pamerkan kegarangannya tanpa mempedulikan keluhan-keluhan makhluk bumi yang tersengat oleh panasnya. Namun, hal itu tidak membuat Aliya mengurungkan niatnya untuk melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler.

Setibanya di sekolah Aliya bertemu dengan Pak Bon. Seperti biasa Aliya selalu berjabat dan mencium tangan Pak Bon.

Setiap ada siswa yang mencium tangan Pak Bon, bibir Pak Bon serasa melafalkan sebuah doa untuk siswa yang berbudi pekerti itu.

Pak Joko guru ekstra bola voli, meniup peliut tanda ekskul dimulai.

“Anak-anak kita akan berlatih passing atas dan passing bawah. Kalian cari pasangan masing-masing, lakukan dengan baik dan benar!” perintah Pak Joko.

Anak-anak asyik melakukan sebagaimana yang diperintahkan Pak Joko. Sampai-sampai tidak disadari waktu hampir satu setengah jam berlalu dan tiba saatnya istirahat.

Kesempatan ini digunakan Aliya untuk menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Saat Aliya sedang asyik menyantap bekalnya, terdengar jeritan minta tolong.

“Tolong…….. Tolong……..”

Aliya kira hanya candaan belaka, tapi semakin lama suara minta tolong semakin keras. Aliya berlari mencari sumber suara itu., ternyata orang yang menjerit itu adalah Martha yang sedang ditolong Pak Bon keluar dari kolam.

“Ada apa ini, Pak? Apa yang terjadi?”

“Tadi Non Martha berlatih volly sendiri, bolanya menggelinding masuk kolam lele. Non Martha terpeleset masuk kolam lele waktu mau ambil bola. Tadi di sini cuman ada saya Non, tidak ada orang lain. Jadi bapak memberanikan diri untuk menolong Non Martha.” jawab Pak Bon seraya membopong Martha.

“Oo, begitu. Terimakasih ya Pak telah menolong Martha.”

Martha didudukkan dia atas lantai, tiba-tiba Pak Bon mengambil sesuatu dari tas Pak Bon. Ternyata sebuah handuk bersih  untuk mengelap Martha yang basah kuyup terkena air dan lumpur. Pak Bon mengambil air bersih untuk Martha dan membersihkan lumpur yang menempel pada baju Martha.

Pak Bon meninggalkan Martha dan Aliya karena masih ada tugas yang belum selesai.

“Gimana Tha? Mana yang sakit?”

Martha tidak menjawab, hanya diam saja. Mungkin masih ‘shock’

“Ternyata Pak Bon baik ya Tha, mau menolong kamu padahal dia punya tanggung jawab pekerjaan senderi!” kata Aliya.

“Iya…” Jawab Martha singkat.

“Pak Bon sangat berjasa coba kalau tidak ada Pak Bon, kamu akan tenggelam.”

“Iya…”

“Pak Bon juga merelakan handuk bersihnya kena lumpur.”

“Iya…”

Aliya memapah tubuh Martha kembali ke rumah.

“Terimakasih ya, Liya.”

“Ya sama-sama.”

******

Pagi yang cerah secerah  hati Aliya yang siap menapakkan kakinya di gerbang sekolah. Ketika sampai di gerbang sekolah, dari kejauhan ia melihat Martha menghampiri Pak Bon dan mendekati Pak Bon. Melihat pemandangan ini, Aliya sengaja bersembunyi di balik pohon besar, sambil mengamati Martha. Ia bertanya-tanya apa yang dilakukan Martha.

“Pagi Pak!” terdebgar suara Martha sambil meraih tangan Pak Bon dan menciumnya.

“Pa… Pagi Non Martha!” reaksi Pak Bon setengah tak percaya.

“Pak, ini… sedikit bingkisan untuk Bapak.” Martha menyerahkan dos besar.

“Terimaksih… Non…”

“Pak terimakasih atas kejadian kemaren.”

“Ya sama-sama…”

“Saya juga minta maaf atas sikap saya selama ini.” Ucap Martha sambil meraih tangan Pak Bon dan mencium tangannya lama sekali.

Melihat adegan ini, mata aliya berkaca-kaca. Ia benar-benar terharu, jangtungnya berdegup tak menentu. Seperti tak percaya, Martha yang keras hati itu hatinya telah luluh lembut.

Alhamdulillah, peristiwa “Kolam Lele” membuat seorang manusia yang semula berhati kelabu menjadi memutih.

Yah, budaya cium tangan yang menjadi tradisi keluarga Aliya telah mengalir pula ke dalam diri Martha.

Sejak saat itu, Martha selalu mencium tangan Pak Bon setiap kali bertemu. Tidak hanya itu saja, kepada Pak Bon-Pak Bon laiinya pun Martha melakukan hal yang sama.

TAMAT

Nama        : ADZILLINA MAGHFIRA PRADANTI
Sekolah     : SMA Negeri 1 Ungaran
Kelas          : XI Bahasa

LEAVE A REPLY