Cerpen: “ARSITEK KECIL”

0
63

Beno senang dengan gambar – gambar yang dia hasilkan, dia memajang gambar – gambarnya di kamarnya. Setiap hari Beno meluangkan waktunya untuk menggambar. Beno akan menunjukkan gambarnya kepada Ibu. Jika Ibu Beno menilai gambarnya bagus maka dia akan langsung menempelkan hasil coretan tangannya dikamar, sedangkan bila Ibu Beno menggelengkan kepala maka Beno akan menyimpan gambarnya di kardus.
Beno sangat senang apabila ada yang bertanya tentang cita – citanya. Suatu ketika, Beno terlihat senang saat Ibu guru Nerlin bertanya tentang cita – cita Beno. Lalu dengan lantang Beno menjawab.

“Cita – cita saya sebagai pelukis.” Lalu Beno mengeluarkan buah karyanya dari tas. Lalu Ibu guru Nerlin memberikan tepuk tangan yang diikuti oleh teman – teman Beno atas hasil gambarnya . Beno merasa bangga dan dia yakin cita – citanya menjadi pelukis akan tercapai.

Sepulang sekolah Beno meluangkan waktunya untuk menggambar dan menggambar di rumah kontrakan orang tua Beno. Suatu ketika ibu dan ayah Beno akan membangun rumah. Desain gambar rumah telah dibuat. Beno melihat desain gambar rumah itu dimeja ruang tamu. Beno yang masih TK itu mengeja huruf demi huruf.

“ G – A –M – B – A – R, gambar. R – U – M – A – H, rumah. Gambar rumah. Oh…” Beno melihat desain gambar rumah itu. Lalu dia lari ke kamarnya untuk mencoba menggambar desain rumah seperti gambar milik orang tuanya.

“ Ibu… Ibu… Ibu…” Beno berlari dari kamarnya menuju ke dapur menemui ibunya.
“ Iya dek… ada apa?” Seru ibu yang sedang mencuci buah – buahan.
“ Ibu.. Coba lihat bu… ini hasil gambar Beno bu… Gimana?” tanya Beno dengan suara manisnya.

Ibu Beno terkejut, karena gambar Beno tidak mempunyai arti. Lalu seperti biasa, ibu Beno menggelengkan kepala. Melihat ibunya menggelengkan kepala, Beno langsung saja berlari menuju kamar. Dia menggambar lagi desain rumah yang berbeda. Kurang puas dengan hasil gambarnya, Beno mengulang kembali gambarnya sampai lima kali. Ketika Beno merasa puas dengan gambarnya, dia tidak lupa memberikan judul “ Gambar Rumah” pada karyanya.

Dia kembali berlari menemui Ibunya ke dapur. Sambil berteriak.
“ Ibu… Ibu… Ini bu… Ini…” Katanya sambil memperlihatkan gambarnya.
Ibu Beno melihat gambar Beno. Dia baru tahu bahwa gambar kotak yang saling bergabungan itu adalah desain rumah yang terdiri dari ruang tamu, kamar, dapur dan lain – lain. Ibu Beno mengerti maksud Beno.
“ Adek… Gambarnya bagus ya… Coba nanti malam gambar adek diperlihatkan oleh ayah.” Kata Ibu kepada Beno.
Saat makan malam, Beno memperlihatkan desain gambar rumahnya kepada ayahnya.
“ Wah… Adik hebat. Ayah mau pinjam gambarnya ya.” Kata ayah memuji Beno.
Ibu dan ayah Beno telah mempunyai rencana bahwa desain rumah yang dibuat Beno yang akan dipakai untuk rumah baru mereka.
Dua bulan kemudiaan, Beno menata barang – barangnya, dari mulai baju, pakaiannya dan tidak lupa hasil karyanya juga Beno masukkan kedalam kardus. Semua barang yang ada dirumah kontrakkan Beno telah di kemas.
“ Ibu… Kita mau kemana? Kenapa Barang – barang dirumah kita dibawa semua?” Kata Beno bingung.
“ Nanti Beno juga tahu sendiri. Yang penting , gambar Beno sudah dibawa semuakan? Tanya Ibu.
Beno menganggukkan kepalanya. Mereka langsung naik mobil meninggalkan rumah kontrakkan Beno. Dua puluh menit kemudiaan, Beno dan keluarganya telah sampai didepan rumah.
“ Beno ayo… masuk.” ajak ayah dengan menggandeng tangan Beno. Ayah Beno juga menjelaskan setiap ruangan – ruangan rumah itu. Di setiap dinding ruangan rumah itu, Beno melihat gambar desain rumah yang dia buatnya.
“ Ayah… Beno kenal dengan gambar – gambar ini. Ini gambar Beno. Mengapa ada disini ayah?” Tanya Beno heran.
“ Adik ingat gambar ini ya?” Tanya ayah.
“ Iya, Beno ingat, ini gambar yang Beno buat dirumah yah..” Jawab Beno
“ Adik, kamu tahu rumah ini?” Tanya ayah lagi.
Beno menggelengkan kepala.
“ ini rumah baru kita. Rumah ini dibangun sesuai dengan gambar Beno yang berjudul Gambar Rumah.” Jelas ayah.
“ Berarti rumah ini milik Beno, ayah dan Ibu. Dan bentuk rumah ini seperti gambar milik Beno yang ini.” Tanya Beno sambil memperlihatkan gambarnya di tembok.
“ Iya… Beno hebat.” Jawab ayah.
Lalu Beno lari menemui ibunya. Dan berteriak.
“ Ibu… Ibu… Ibu…” Teriaknya keras. “ Ibu rumah baru ini seperti gambar beno bu.” Cerita Beno.
“ Wah hebat. Itu berarti gambar Beno bagus. Sekarang Ibu tanya, cita – cita Beno apa ?” tanya Ibu.
“ Cita – cita Beno sebagai pelukis.” Jawab Beno riang.
“ Bagus, tapi karena Beno juga pandai membuat desain rumah maka Beno bisa menjadi Arsitek.” Tutur Ibu.
“ Apa itu bu?” Tanya Beno heran.
“ Arsitek itu perancang sebuah bangunan seperti gedung rumah dan lainnya.” Jawab ibu.
“ Oh… Jadi cita – cita Beno menjadi Arteksi Bu.” Kata Beno bangga.
“ Bukan Arteksi sayang, tapi Arsitek.” Ibu membenarkan kata – kata Beno.
“ Asirtek? Eh bukan tapi Arsitek. Ya kan bu?” Tanya Beno.
“ Iya, benar.” Jawa ibu senang.
“ Jadi Beno ingin menjadi Arsitek.”Teriak Beno.
“ Iya, namun sekarang Beno juga sudah menjadi arsitek, Arsitek Kecil namanya.” Gurau Ibu.

Beno hanya tersenyum, menampakkan giginya yang putih. Di rumah barunya, setiap hari Beno menggambar bermacam – macam. Tidak lupa dia juga menggambar desain rumah.
Saat ini Beno menjadi murid kelas 1 SD, di SD Harapan Nusa. Saat Ibu guru bertanya tentang cita – cita Beno, dengan bangga Beno menjawab
“ Cita – cita Beno sebagai Arsitek.” Jawab Beno, dengan mengeluarkan hasil desain rumahnya dan di tunjukkan kepada Ibu guru.

Enam tahun sudah Beno menginjakkan kaki dijenjang SD. Dan kali ini Beno menginjakkan kaki dijenjang SMP. Di SMP dia masih sama seperti SD dulu. Suka menggambar desain rumah. Bahkan permainan kesukaannya seperti yang berbau arsitek misalnya The Sims. Beno juga masih menyimpan gambar desin rumah yang dulu dia gambar sendiri dalam sebuah kardus. Dia masih kokoh dengan cita-citanya menjadi seorang Arsitek.
Bel telah berbunyi. Semua anak-anak yang ada dikelas segera keluar untuk menikmati jam istirahat. Beno yang ada dikelas hanya mengeluarkan kertas dan mulai menggambar rumah. Fajar teman Beno yang duduk dibelakang Beno pun segera mengajaknya untuk jajan bersama. Tapi Beno menolak ajakan Fajar. “Kau setiap hari menggambar rumah terus. Apa kau tidak bosan?” tanya Fajar, “Tidak. Ini sudah seperti hobiku.” Jawab Beno. “ Sudahlah, lanjutkan nanti lagi. Ayolah kita jajan, perutku sudah mulai keroncongan.” ajak Fajar. Walaupun sebenarnya Beno masih ingin melanjutkan gambarnya tapi dia tidak mau melukai hati sahabatnya sendiri.

Dikantin Beno dan Fajar berbincang-bincang tentang cita-cita. Fajar ingin tahu sekali cita-cita sahabatnya itu. Beno memberi tahu cita-citanya pada Fajar. “Kenapa kau ingin sekali menjadi seorang Arsitek?” tanya Fajar kembali, “Em.. karena menjadi Arsitek itu sepertinya asyik.” jawab Beno. Tapi dengan jawaban itu Fajar masih belum puas. Akhirnya Beno menjelaskan kenapa dia ingin menjadi Arsitek. Belum selesai Beno menjelaskan, tiba-tiba bel masuk telah berbunyi.

Tahun telah berganti. 3 tahun sudah Beno menjadi anak SMP. Dia melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi yaitu di SMA. Dia lebih giat belajar dan ikut berbagai lomba agar saat dia mendaftar ke perguruan tinggi negeri lebih mudah. Kali ini cita-citanya dia lupakan selama SMA. Biasanya dulu dia pasti selalu menggambar desain rumah. Tapi kali ini dia tidak pernah menggambar seperti itu lagi. Olimpiade dia ikuti dengan senang hati. Beno juga selalu menjai juara dalam lomba yang ia ikuti. Dia juga pernah mewakili sekolahnya dalam Olimpiade sains tingkat Nasional.

Hari terus berlalu. 3 tahun sudah Beno berada di SMA. Saatnya dia melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi. Diaikut SNMPTN dan mendaftarkan di Fakultas , Universitas Indonesia (UI). Beno sangat berdebar-debar. ‘Sedikit lagi cita-citanya menjadi seorang Arsitek akan terkabul.’ batinnya. Tapi melihat pesertanya sangat banyak, Beno sedikit takut apabila dia tidak lolos dalam SNMPTN.

Akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu datang juga. Jam 12.00 akan diumumkan lewat situs SNMPTN. Beno sudah tidak sabar lagi. Jam 12.00. Beno sudah mulai membuka dan ternyata… Dia lolos SNMPTN. Dia sangat senang sekali.Akhirnya dia bisa sekolah di Universitas Indonesia dan langsung diterima.

Berkat belajar dan selalu ikut lomba, Beno bisa meraih cita-citanya sebagai Arsitek. Dulu dia diberi julukan Arsitek Kecil oleh ibunya, sekarang dia sudah bisa dipanggil arsitek. Tapi Beno lebih suka julukan yang dibuat oleh ibunya yaitu Arsitek Kecil.

Karya: Dinda Luthfi Labibah
Kelas IX B SMP Negeri 5 Ambarawa
Kab. Semarang, Propinsi Jawa Tengah

LEAVE A REPLY