Budaya Berbahasa Daerah dalam Kehidupan Masyarakat

2
41

Kebudayaan merupakan hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan budayanya, meliputi bahasa, pakaian, rumah, tradisi dan upacara adat, makanan, kesenian, dan lain sebagainya. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Misalnya di Banten terkenal dengan seni pertunjukan Debus, Jawa Barat terkenal dengan Wayang Goleknya, Jawa Timur terkenal dengan Reognya, dan masih banyak lagi di daerah lainnya.

Namun seiring perkembangan zaman, kebudayaan Indonesia lambat laun mulai terkikis. Hal ini ditandai dengan masuknya globalisasi ke Indonesia yang mampu menggeser nilai-nilai kebudayaan masyarakat Indonesia. Apalagi remaja saat ini atau yang disebut kidz zaman now banyak yang tidak mengenal kebudayaan di daerahnya sendiri.

Remaja masa kini lebih menyukai hal-hal yang berbau asing karena dianggap gaul dan lebih keren. Ketika remaja Indonesia sibuk mempelajari tentang kebudayaan orang lain, mereka tidak sadar bahwa kebudayaan mereka sendiri dipelajari oleh orang asing. Contohnya saja Australia. Di sana, bahasa Indonesia telah dijadikan pelajaran wajib di sekolah.

Tidak hanya Australia, di negara Kincir Angin, Belanda pun juga tertarik akan kebudayaan Indonesia, salah satunya adalah bahasa Jawa. Universitas Leiden yang didirikan tahun 1957 oleh Pangeran Willem van Oranje merupakan salah satu universitas tertua di Belanda yang menyimpan berbagai naskah kuno beraksara Jawa. Bahkan, apabila masyarakat Indonesia ingin mendapat gelar S-2 Sastra Jawa, mereka harus menempuh pendidikannya di Belanda. Hal ini menjadi pemandangan yang sangat memalukan. Bukankah hal ini justru mencerminkan bahwa pemilik bahasa asli kurang mengapresiasi bahasanya sendiri?

Apabila kita melihat dari pendidikan di Jawa khususnya Jawa Timur, bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai prioritas. Bahasa Jawa dianggap seperti bahasa asing hanya karena memiliki banyak aksara dan memiliki pembagian tingkatan. Misalnya bahasa ngoko dan krama. Padahal jika diperhatikan, bahasa Jawa tidak jauh berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Perancis, dan masih banyak lagi. Bahkan, jatah jam mata pelajaran bahasa Jawa sendiri lebih sedikit dibandingkan pelajaran bahasa lainnya.

Sebagai contoh masyarakat Jawa Timur, jika diperhatikan dari sisi kehidupan sehari-hari, masyarakat di daerah tersebut mengajarkan anak cucunya dengan bahasa asing dalam berkomunikasi. Hal ini malah menjadi kebiasaan mereka sejak dini. Tidak heran jika banyak masyarakatnya tidak mengetahui bahasanya sendiri. Bukan hanya di Jawa Timur saja, di beberapa daerah lainnya pun juga demikian.

Dilihat dari data dalam sebuah halaman web, 11 bahasa daerah di Indonesia telah punah, 19 terancam punah, dan 2 bahasa daerah kritis. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan bahasa daerah, bencana alam yang berakibat berkurangnya penutur bahasa di daerahnya masing-masing, dan akulturasi antar budaya yang berbeda sehingga menciptakan kebudayaan baru.

Sebagai generasi penerus bangsa yang keren, hendaknya kita bangga dengan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Negara kita adalah negara yang kaya, tetapi masyarakatnya tidak memanfaatkan kekayaan itu dengan baik. Apabila seluruh masyarakat di tiap-tiap daerah tetap memegang kebudayaannya, tidak akan ada istilah bahwa kebudayaan Indonesia di beberapa daerah terancam punah atau bisa disebut punah. Acuhnya generasi penerus inilah yang menyebabkan kebudayaan Indonesia semakin punah. Jika salah satu kebudayaan diklaim negara lain, barulah seluruh masyarakatnya angkat bicara, namun tidak dibuktikan dengan tindakan yang nyata, yaitu dengan mempelajarinya.

Cintai Indonesia, budayakan berbahasa daerah, lestarikan dan pelajari kebudayaan Indonesia!

Pelangi Sekar Gading Kinasih

Siswi XII Bahasa SMA Negeri 1 Kepanjen

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY