Bahasa Anak Jaksel Digandrungi Kaum Generasi Z

0
74

Bahasa Gaul Anak Jaksel Digandrungi Kaum Generasi Z

  1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Bahasa memiliki beragam jenis, tetapi memiliki fungsi yang sama yaitu untuk berkomunikasi antar sesama manusia. Oleh karena itu bahasa sangat dibutuhkan oleh manusia, masing – masing daerah bahkan negara memiliki bahasa mereka sendiri, sebagai contoh di negara Indonesia digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bahasa merupakan elemen linguistik yang sangat dinamis, dalam artian bahasa dapat berubah seiring kemajuan zaman dan kondisi masyarakatnya. Perubahan itu sendiri dapat terlihat dari munculnya bahasa gaul di masyarakat.
    Bahasa gaul (slank) merupakan dialek bahasa nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan, biasanya digunakan oleh para remaja atau sebagian generasi muda dalam masyarakat. Dewasa ini, masyarakat kembali ditunjukkan adanya bahasa gaul teranyar yang viral dan mulai sering digunakan oleh remaja, yaitu bahasa anak Jakarta Selatan atau yang lazim disebut bahasa anak Jaksel.
    Bahasa anak Jaksel merupakan ragam dari bahasa gaul yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan istilah dalam bahasa Inggris. Kata – kata yang sering digunakan ialah which is, literally, basically, atau menyebutkan sinonim kata yang ingin diucapkan dengan bahasa Inggris. Bahasa ini menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Beberapa beranggapan bahwa penggunaan bahasa khas anak Jaksel ini tidak baik, karena dapat merusak tatanan bahasa Indonesia yang baku. Namun ada juga yang berpendapat bahwa penggunaannya sah – sah saja asal dalam batas wajar dan tidak menggunakan kata – kata yang tidak baik.
    Gaya bahasa anak Jaksel ini semakin viral di kalangan remaja karena mudah disebarluaskan melalui berbagai aplikasi media sosial yang ada, seperti twitter, facebook, instagram, youtube, dan lain – lain, sehingga penggunaannya saat ini tidak hanya berpusat di Jakarta Selatan saja, tetapi hingga ke berbagai daerah di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta Utara, dan Bandung. Banyak cuitan di twitter tentang penggunaan bahasa ini, contohnya “ Aku tuh sekarang lagi confuse banget, which is homework yang dikasi guru terlalu difficult. Literally sekarang aku butuh istirahat biar fresh “Selain media sosial, ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi remaja lebih senang menggunakan bahasa tersebut.
    1. Remaja generasi z lebih menyukai hal – hal yang berbau barat
    Sudah tidak asing lagi jika remaja generasi z saat ini sangat menyukai budaya atau sesuatu hal yang kebarat – baratan. Hal ini tidak terlepas dari adanya pengaruh globalisasi yang menyebabkan sekat antar negara semakin tak tampak. Oleh karena itu, munculnya bahasa anak Jaksel atau yang sering disebut bahasa “gado – gado” ini cepat diikuti dan ditirukan oleh generasi muda kebanyakan. Meskipun mereka tidak mengetahui apa maksud dan tujuannya dalam menggunakan bahasa tersebut.
    2. Beranggapan agar lebih lancar dalam belajar bahasa asing
    Penggunaan bahasa “gado – gado” yang banyak mencampurkan istilah dalam bahasa Inggris dianggap dapat membantu dan memudahkan mereka dalam menguasai bahasa Inggris, karena salah satu upaya untuk memperlancar bahasa yang kita pelajari adalah dengan sering mengucapkan serta menggunakannya dalam kehidupan sehari – hari. Dengan menggunakan istilah bahasa Inggris dalam percakapan keseharian mereka, remaja kebanyakan merasa mudah menghafalkan kosakata bahasa Inggris yang dipelajari.
    3. Lebih mudah penggunaannya dibandingkan bahasa baku
    Kebanyakan remaja memiliki kecenderungan untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan santai. Bahasa anak Jaksel terkesan santai karena tidak menggunakan bahasa formal yang kaku, sehingga tidak nyaman saat digunakan oleh para remaja. Ketika menggunakan bahasa formal, remaja seakan tidak bisa mengekspresikan diri dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan bebas. Bahasa formal sangat identik dengan bahasa yaang digunakan untuk membahas sesuatu yang sifatnya serius dan sangat penting.
    4. Setelah menggunakan bahasa “gado – gado” merasa lebih keren dan gaul
    Tidak bisa dipungkiri, kaum generasi z saat ini lebih menyukai terkenal karena sensasi bukan prestasi. Terbukti banyak remaja yang secara instan terkenal dan menjadi idola karena sensasi yang mereka buat di media sosial, sehingga masing – masing individu akan berlomba untuk membuat sesuatu yang baru dan unik agar mudah dikenal masyarakat. Dengan adanya bahasa “gado – gado” remaja akan merasa lebih keren karena sudah mengikuti sesuatu yang sedang viral dan tren di media sosial.
    5. Bahasa anak Jaksel hanya digunakan untuk bercanda
    Mau tidak mau, sesuatu yang baru dan tidak lazim pasti banyak menuai pujian dan cibiran dari netizen, sehingga berbagai macam komentar terlontar mengenai bahasa “gado – gado” ini. Ketika mendapat komentar yang negatif dari salah satu warganet, maka sebagian akan membalas komentarnya dengan ujaran “ santai aja dong kan ini cuma buat bercandaan, gak usah serius banget kali ”. Jika sudah menyangkut bercanda, segala sesuatu yang awalnya serius pun akan dianggap wajar dan lumrah.
    Sebenarnya tidak salah jika remaja menggunakan bahasa yang diviralkan anak Jaksel tersebut, tetapi sebagai generasi muda negara Indonesia kita tetap harus melestarikan bahasa nasional dan bahasa pemersatu kita. Di era global seperti ini mempelajari dan menguasai bahasa asing memang penting, tetapi kita tidak boleh lupa dengan bahasa negara sendiri. Jika memang bahasa “ gado – gado “ hanya untuk bercandaan pun tidak masalah, asalkan kita tetap megetahui bagaimana seharusnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan sampai karena ingin menjadi gaul dan keren kita mengabaikan bahasa asli negara Indonesia.
    Seperti ujaran yang ditanamkan oleh guru pengajar saya, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Jika kita bisa mempraktikkan dengan baik, bukan tidak mungkin jika generasi muda bisa bersaing di dunia internasional dan bisa memperkenalkan budaya yang dimiliki ke negara lain. Bahkan generasi muda yang tercipta bukan lagi keren karena sensasi tetapi keren dan gaul karena prestasi.

LEAVE A REPLY