Aku Rindu Ayah

4
61

Hujan kembali datang di malam ini. Mengingatkan sebuah kenangan beberapa bulan yang lalu. Saat semua tengah berkumpul bersama,saat semua tengah bahagia. Masih bersama seorang lelaki hebat sebagai pemimpin di dalam nya.

Suatu malam aku duduk bersandar di kursi. Mataku menatap jauh keluar jendela,dimana rintikan air hujan mengalir deras dari atas langit. Seketika terlintas di kepala ku,aku teringat kenangan beberapa bulan yang lalu,dimana saat itu tengah berkumpul bersama,bergurau bersama,dan kebahagiaan melekat dalam diriku.

Sampai sekarang aku masih mengingat semua kenangan dan terekam jelas dalam otakku. Bagaimana saat kita berkumpul dan bergurau tanpa adanya perselisihan yang berarti di dalamnya.

Akan tetapi aku yakin,kepergiannya saat ini adalah wujud dari perjuangan dan pengorbanannya untukku dan keluarga ku. Meski terkadang terlintas dalam benakku,jika aku memang merindukannya.

Disaat aku tenggelam dalam lamunanku,tiba-tiba terdapat suara dari ujung dapur memanggilku.”Ri…cepatlah kamu makan. Kerjakan tugas-tugas mu termasuk kewajiban mu,kemudian tidurlah”.

Ibuku memanggilku dan memberikan beberapa perintah untukku. Aku tau,pasti ada rasa lelah dalam dirinya saat mengurusku tanpa adanya kehadiran ayahku. Ibuku selalu saja khawatir dengan keadaanku.

Ia takut aku menjadi anak yang tidak bermoral karena tidak ada pria tegas di samping ku yang membesarkan ku. Dan karna itu ia selalu mencoba menjalankan peran ganda dalam kehidupan ku.

Ia sebagai ibu yang lemah lembut terhadap anaknya dan juga seorang ayah yang disiplin dan tegas. Walaupun terkadang ia sesekali lupa serta berlebihan ketika ia berusaha menjadi seorang ayah bagiku.

“Iya bu,nanti aku akan makan”,jawabku. Aku berjalan perlahan menuju dapur dan mulai mengambil makanan ku. “Nak,,,kamu itu harus makan yang banyak,belajar yang benar,dan jangan pernah tinggalkan kewajiban mu. Agar,kalau satu saat kamu besar nanti,kamu bisa jadi orang yang berguna”ceramah ibuku.

“Iya lah bu”,aku menjawab ala kadarnya. Setelah aku selesai makan,aku langsung pergi menuju kamar ku untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah ku. Sebelum mulai mengerjakan tugas-tugas sekolah ku,aku sempatkan untuk melihat layar handphone ku.

Aku selalu berharap ada pesan masuk dari ayahku. Aku tutup handphone ku. Aku mengambil buku di meja belajar ku dan mulai mengerjakan tugas sekolah ku satu persatu. Saat aku tengah mengerjakan tugasku,entah mengapa aku teringat dengan sosok ayahku.

Aku sangat-sangat ingin rasanya dapat duduk bersama kembali dengannya. Berkeluh kesah tentang kehidupan ku di Sekolah,tentang ibu,teman-temanku ,dan semua yang selalu saja mengganggu pikiran ku.

Karena aku merasa tidak fokus,akhirnya aku pun memutuskan menutup buku ku tanpa menyelesaikan tugas sekolah ku. Aku beranjak dari meja belajar ku kemudian aku berjalan menuju tempat tidur ku. Aku menarik selimut dan menutup kedua mata ku.

Belum sempat aku tertidur,aku mendengar suara kaki yang berjalan menuju ke arah ku. Aku tau itu ibuku,dia duduk di pinggiran kasur ku. Tangannya yang lembut membelai rambutku dan kemudian berbisik lirih ke arahku

“Selamat tidur nak…bermimpilah yang indah”. Setelah itu ia kemudian berlalu meninggalkan kamarku. Senang sekalk rasanya diperhatikan setiap harinya oleh ibu. Namun,terkadang ingin sekali rasanya aku mendapatkan ucapan selamat tidur dari sosok ayahku.

Aku ingin sekali rasanya kembali seperti dulu lagi. Mendapat perhatian dari ayahku. Ayah yang biasanya selalu ada di sisi ku. Yang selalu memberikan dorongan kepada ku agar aku kuat disaat aku lemah. Yang selalu menghapus air mataku dan menghiburku disaat aku menangis. Yang selalu merawat ku disaat aku sakit.

Ayah…malam ini aku sangat merindukan mu. Sangat menantikan kehadiran mu. Aku menyayangi mu ayah. Cepat pulang ayah,aku rindu.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY