Aku, kamu, dan perasaan ini

0
7

Aku, kamu, dan sebuah rasa

“Tuhan, bila ku masih diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintainya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja”

Mungkin lirik lagu itu yang mampu mencerminkan perasaan Ayu. Sosok gadis periang berwajah manis dengan rambut hitam panjangnya yang ia biarkan terurai, tertiup angin sepoi-sepoi hingga menutupi wajahnya.
“ahh…kau tau Arya, ini tempat yang paling indah. Aku beruntung bisa kamu ajak kesini.” Sinta melentangkan kedua tangannya, mencoba membendung angin yang menerpa dirinya. Sesaat, ia tersenyum pada Arya yang berada di sampingnya, memperhatikan Ayu yang sedang asyik menikmati suasana sejuk di pantai ini.
“hmm… ya iyalah. Gak rugi kan kamu sahabatan sama aku.” Ucap Arya dengan percaya dirinya. Sedikit demi sedikit, Arya melirik gadis periang yang ada di sampingnya itu. Entah, selalu ada rasa bahagia ketika Arya menatap Ayu. Namun, mereka hanya bersahabat. Persahabatan yang terjalin sejak mereka memasuki Sekolah Menengah Atas. Hingga kini merea menjai semakin dewasa dan mereka berada di kelas XII.
“ya…bener-bener. Hahahaha…” Ayu manggut-manggut menimpali penyataan Arya tadi.
“udah sore nih, pulang yuk. Ajak teman-teman juga tuh.”
Akhirnya Arya mengajak Ayu dan teman-temannya untuk pulang
Di riumah, tepatnay di ruang tamu. Ayu merebahkan tubuhnya di shofa dan jemari tangannya asyik memijat-mijat layar hp. Up, benar. Apa lagi yang Ayu lakukan selain SMSan sama Arya. Arya bukan hanya sahabat sekolahnya, tapi setiap hari mereka selalu berkomunikasi. Menceritakan banyak hal, dan saling curhat. Apalagi Arya saat ini sedang menjalin hubungan dengan sahabat Ayu yaitu Husnia. Setiap hari, Arya selalu saja curhat tentang hubungannya dengan Husnia. Setiap Arya da masalah dengan Husnia, Ayu yang selalu menjadi penengah. Nasihat demi nasihat yang dituturkan Ayu embuat Arya tenang dan merasa nyaman. Dan akhirnya, Arya dan Ayu menjadi sangan dekat. Sebagai sahabat tentunya, tapi itu menurut Ayu entah dengan Arya.
Setelah mereka saling curhat, tiba-tiba ada balasan pesan dari Arya. “I love you.”
Ayu mengerutkan dahi setelah membaca pesan Arya. Dengan sedikit gagu Ayu membalas.
“hah? Kamu salah kirim ya, Arya?.” Tak ada 1 menit, Arya membalas lagi.
“enggak.”
“terus..kok gitu?.”
“hehehehe…”
“jangan bercanda deh.”
Setelah percakapan itu, Arya tak membalas lagi. Ayu semakin bingung.
“apa Arya suka sama aku? Ahh.. gak mungkin deh kan Arya udah jadi pacarnya Husnia. Ahh…” Ayu menepuk-nepu dahinya.

Keesokan harinya di sekolah

Ayu dan Arya saling bertemu. Ya, mereka memang teman tetanggan kelas. Namun, pertemuan kali ini sedikit canggung. Apalagi saat Ayu mengingat pesan Arya semalam. Mereka hanya saling memandang kemudian saling menunduk. Berkali-kali mereka berpapasan ketika keluar masuk kelas. Ayu selalu sesaat menatap mata Arya etika mereka berpapasan. Dan benar, sinar mata Arya berbeda seakan ada yang disembunyikannya namun tidak berani untuk mengungkapkannya.
“Arya, apa yang kamu sembunyikan?.”

Beberapa bulan kemudian…
Ayu dan Arya tetap menjalin persahabatan. Seperti biasa, komunikasi lewat pesan pun tetap berjalan tak jarang juga saling menelpon. Tapi tetap, Ayu meyakinkan hantinya bahwa Arya hanya sebatas sahabat baginya. Tak lebih. Meskipun Arya sering menggoda dan tak jarang juga menunjukkan perasaannya, tapi Ayu tetap menjaga perasaan Husnia yang juga sahabatnya.
Hingga akhirnya, Ayu dikabarkan dekat dengan salah satu cowok di sekolahnya. 1 bulan menjalani PDKT, akhirnya mereka jadian. Hal itu bertepatan pula dengan merenggangnya hubungan Arya dan Husnia. Meskipun Ayu sudah memiliki kekasih, Ayu tetap care pada Arya. Apapun masalah Arya, Ayu selalu siap menemaninya.
Dan beberapa bulan menjelang kelulusan, Arya dan Husnia putus. Tetapi tidak dengan Ayu. Ayu tetap langgeng dengan Yoga kekasihnya. Hal itulah yang membuat Arya sedih. Benar, jiwanya selalu bersama Ayu,tetapi tidak dengan hatinya. Selama menjalin hubungn dengan Husnia, Arya juga menyimpan rasa pada Ayu. Namun Ayu tak menghiraukan perasaan Arya. Tetapi, tak sedikitpun untuk Arya menghapus perasaannya terhadap Ayu. Meski sampai detik ini tak ada jawaban dari Ayu mengenai perasaanya.
Keulusan sudah ada di depan mata. Selanjutnya, tinggal melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu universitas. Ayu memutuskan untuk tidak melanjutkan ke universitar yang jauh dari kota kelahirannya, Surabaya. Karena disini juga banyak universitas-universitas yang tak jauh lebih unggul dari universitas lainnya yang ada di luar kota. Mengenai kemana Arya akan melanjutkan kuliahnya, Ayu tak tahu-menahu. Sebab, sudah beberapa hari ini Arya tidak menghubunginnya. Saat di sekolah pun tak ada sapaan dari Aldo. Jujur, Ayu merasa rindu. Dan baru disadari Ayu telah kehilangan separuh hatinya. Entah mengapa ia merasakan seprti itu.
“hmm…bete nih, Sin.” Ucap Ayu pada salah satu sahabatnya, Sinta.
“kenapa kamu, Ay? Bingung ngurusin pendaftaran yah?.” Sinta mencoba menebak kegelisahan Ayu yang saat ini sedang berbaring di kamar Sinta.
“bukan, kalau itu sih sudah beres. Cuma…dari kemarin ribut mulu nih sama Yoga.” Jawab Ayu dengan beranjak bangun dari rebahannya, dan tangannya yang seang mendekap boneka besar milik Sinta.
“yaelah, wajar kale, Ay kalau hubungan ada ributnya.” Sinta berusaha menenangkan.
“hmm… tapi anehnya juga udah berhari-hari ini Arya gak bubungin aku sama sekali,Sin.”
“ha? Serius kamu?.” Kini mata Sinta melotot seolah kaget.
“kamu kenapa sih, basa aja kali.” Ayu menjawab sanati. Sedangkan Sinta kini beranjak drai tempat tidurnya dan berdiri di hadapan Ayu.
“Ay, kamu nyadar gak sih? Arya suka sama kamu dari dulu. Cuma dia nutupin perasaannya dengan cara dia pacaran sama Husnia.” Jelas Sinta. Mata Ayu sekeika memandang liris ke arah Sinta. Diam sejenak.
“haha… kamu jangan bercanda deh. Gak lucu.” Ucap Ayu tak percaya.
“ya ampun,Ay. Kalau dia gak suka sama kamu, ngapain di sekolah dia nyuri-nyuri pandang kamu? Kamu pernah ceritakan sama aku kalau Arya pernha bilan I LOVE YOU ke kamu. Ya itu cara dia ngungkapin perasaannya.” Sinta ngotot, dan mulai sedikit jengkel pada Ayu.
“tapi kan aku sama dia Cuma sahabatan. Lagipula bisa aja kan kalau dia Cuma bercanda atau nggoda aku.” Jawab Ayu dengan ketidak percayaannya.
“ aduhh… kamu tuh ya. Selama ini aku perhatiin mata Arya tuh selalu bersinar kalau lihat kamu. Beda kalau dia lagi lihat Husnia. Terserah deh,kalau gak mau telat nyadari perasaan kamu, besok Arya mau berangkat ke Jakarta dia mau ngelanjutin kuliahnya di sana. Dan aku berharap kamu mau nemuin dia disana sebelum dia pergi.” Sinta menepuk bahu Ayu seakan meyakinkan.
Ayu manggut-manggut dan menyadari kesalahannya. “iya Sin. Aku pasti nemuin dia. Aku gak mau telat nyadarin perasaanku. Makasih Sin. Aku harus segera pulang.” Ayu bergegas melesat meninggalkan Sinta yang tersenyum melihatnya. Malam itu, Ayu menyadari perasaannya.
Keesokan harinya pukul 07.00 di bandara
“kamu dimana, Ya? Tolong jangan pergi.”
Suara hati Ayu menjerit di tengah kerumunan para penumpang di bandara. Ayu terus berusaha mencari. Tak jarang juga ia menabraki penumpang yang sedang nerlalu-lalang. Ayu berlari kesana-kemari berharap ia menemukan siluet Arya. Hingga akhirnya, ia putus asa, ia jatuh tersimpuh di tengah kerumunan banyak orang.
“Aaarrryyyyaaaa……!!!!!” Ayu menjerit sekencang-kencangnay dengan berlumuran air mata membasahi pipinya. Dan tiba-tiba…
“Ay???” suara lembut Arya memecah suasana. Ayu seketika mendongakk, dan dilihatnya sosok Arya yang kini sedang ada di hadapannya. Senyum terlukis di bibir Ayu. Dengan sigap Ayu beranjak berdiri dan jatuh dipelukan Arya.
“Ay, kamu kenapa? Kamu gak sama Yoga?. Dan kamu tahu darimana aku disini?.” Tanya Arya, ia khawatir Yoga akan melihat kejadian ini.
“sudah, jangan tanyakan Yoga. Dan kenapa aku bisa ada di sini. Yang aku mau kamu pulang sama aku.” Kini mata mereka saling beradu.
“tapi, papa aku udah nungguin,Ay. Dan pesawat akan berangkat 10 menit lagi.” Arya mengalihkan pandangannya dan mulai membawa tas kopernya. Perlahan, ia menjauh dari hadapan Ayu dengan tersenyum. Mata Ayu berkaca-kaca. Ketika Arya sudah menjauh Ayu berteriak.
“Aaalllddoooo…. AKU MENCINTAIMU!!!.”
SUARA Ayu membat langkah Arya terhenti. Arya tersenyum mendengarnya. Pelan, ia melepaskn kopernya dan berbalik badan ke arah Ayu. Arya berlari menghampiri Ayu dan memeluknya dengan wajah bahagia.
Akhirnya Tuhan memberikan kesempatan itu kepada Ayu untuk memperbaiki kesalahannya terhadap Arya. Terkadang, kita sadar begitu kita mencintai seseorang justru disaat ia pergi. Namun ketika kesempatan itu masih ada, kenapa tidak?? 
Selesai

BY : SINTA AYUDIYA ARIANI

LEAVE A REPLY