0
12

Ketika Tuhan Menetapkan.

Raut wajah cemas tergambar jelas di binar matanya. Cemas menanti hadirnya keluarga baru dalam keluarganya, cemas menunggu hadirnya titipan tuhan yang mudah-mudahan berhati malaikat. Dari tadi dia hanya bisa mondar-mandir di depan ruangan operasi, mulutnya tak henti-henti memanjatkan do’a, berharap semua akan baik-baik saja.

Raut wajah cemasnya langsung berubah ketika dirinya mendengar suara tangisan bayi memecah kesunyiaan dan kecemasan yang tengah menyelimutinya. Pandangannya langsung menerawang dinding membayangkan wajah sang malaikat kecil.

Sudah lebih dari 10 menit berlalu sejak pertama kali dia mendengar suara tangisan bayi, tapi sang dokter tak kunjung datang memberitahunya berita ini. “Ada apa ini? Apa yang terjadi? Kemana semua Dokter itu? Apa yang terjadi dengan malaikat kecil ku?” beribu pertanyaan menggelayuti benaknya, menyerbu ingin di tuntas kan. Semua pertanyaan akan terjawab tuntas ketika Dokter keluar dari ruangan itu, ruangan yang membatasinya dengan sang istri dan anaknya.

“selamat yah Pak, anak Bapak perempuan,  tidak hanya satu tapi dua, mereka lahir dengan selamat, tapi …” sang Dokter menggatung kalimatnya, sunggu itu membuatnya penasaran. “Tapi maaf, nyawa istri Bapak tidak terselamatkan, kami sudah berusaha dengan maksimal”. Rasanya itu lebih sakit dari pada suatu sayatan , lebih pedih daripada sebuah cambukan dan lebih sesak rasanya dari pada tenggelam dalam lautan yang dalam dan dingin. Matanya terasa perih ada sesuatu yang ingin keluar dan seketika semua menjadi kabur, begitu juga dengan kerongkongannya terasa kering ada sesuatu di sana, ada sesuatu yang mengalangi semua suaranya untuk minta penjelasan pada Sang Dokter dan lutut nya, rasanya seperti sudah tak bertulang. Tubuhnya langsung jatuh begitu saja, tersungkur ke pusat bumi.

Ditatapnya lekat-lekat sang istri, sekarang dia hanyalah seonggok bangkai yang tak berarti apa-apa lagi tapi beberapa menit yang lalu dia adalah seorang wanita tanggu yang telah  berhasil menghadirkan dua orang malaikat kecil untuknya. Dikecupnya kening sang istri dengan penuh rasa cinta dan sayang.

Sekarang pandangan matanya tertuju pada dua orang malaikat kecilnya, ditatapnya dengan penuh rasa ibah dan piluh. Diangkatnya salah satu dari dua orang malaikat kecil nya, suara kamat mulai bersenandung di ruangan yang di dominasi oleh warna putih dan bau obat-obatan yang begitu menyengat, setelah selesai di letakkannya kambali dan diangkatnya anak yang satu lagi, suara kamat kembali bersenandung di rungan itu.

“lihat itu ibu mu, dia hebat yah. Nanti jika kalian sudah besar akan Ayah ceritakan betapa hebatnya ibu kalian, agar kalian tak pernah melupakan perjuangan dan pengorbanan Ibu kalian. Hanya wanita tangguh yang bisa seperti Ibu kalian” air mata metes begitu saja, tanpa perlu di komandoi.

Sepertinya langit juga berduka, jam 12 siang prosesi pemakaman selesai. Asraf, nama sang suami sengaja tak mengajak dua orang putri kecilnya. Asraf mengusap pelan batu nisan itu, menciumnya menganggap batu nisan itu seperti istrinya, memberikan salam perpisahan. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan pemakaman, Asraf menarik napas berat dan baru ia benar-benar beranjak dari pemakaman itu.

10 tahun berlalu anak-anaknya tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Tapi mereka lahir dengan kekurangan masing-masing. Aisya Mainara tapi biasa dipanggil Nara lahir dengan kebutaan dan Aisya Ayiera biasa di panggil Ayi lahir dengan kutuliannya. Tapi hal itu tak mengurangi kasih  sayang ayahnya sedikit pun.

“Nara … hidung mu kok keluar darah” celetup Ayi ketika melihat darah keluar begitu saja dari hidung Nara “ayo kita bilang Ayah” tapi sayang Nara tak menghiraukan semua perkataan Ayi, dia terus berlari begitu saja, tak tau arah. Sementara Ayi sudah panik tak tau apa yang harus di perbuatnya.

“auhhh kepala ku pusing” rinti Nara dengan nada penuh kesakitan, sayang Ayi tak bisa mendengar apa yang di katakan oleh Nara, tapi ia tau bahwa saudaranya itu tengah kesakitan. “Ayah … Nara sakit, ada darah di hidungnya” teriak Ayi, tanpa bergerak dari tempatnya

“sudahlah Ayi, aku tidak apa-apa tidak usah panggil ayah” Nara mengucapkan itu dengan menggunkan bahasa isyarat yang sudah mereka pelajari di sekolah. “A-KU-HA-NYA-PU-SI-NG” Nara kembali mengejanya dengan pelan, agar Ayi paham dengan apa yang ia katakan.

Walaupun hidup dalam keadaan kekurangan mereka lahir sebagai saudara kembar yang saling melengkapi. Allah itu maha adil, maha bijaksana dan tau yang terbaik untuk hambanya. Seiring berjalannya waktu, entah kenapa Nara lebih sering merasakan sakit di kepalanya, rasanya seperti ada yang memukul dan dia juga merasakan ada sesuatu yang keluar dari hidungnya, sayang Nara tak bisa melihatnya, tapi yang ia tau, cairan itu berbau amis dan rasanya sedikit asin.

“Nara … aku penasaran, seperti apa suara itu? Kenapa aku tak bisa mendengarnya. Dan aku yakin, kamu juga pasti penasaran sama bentuk bulan. Akan aku ceritakan, bulan itu sepeti bola yang sangat besar dan memiliki cahaya, kata ayah jika kita melihatnya terus kita akan dapat melihat senyum ibu” Nara hanya tersenyum, membayangkan bentuk bulan yang di ceritakan oleh Ayi

“hmmm apa yah? Suara itu, seperti ada sesuatu yang tak bisa kamu lihat dan dia akan melewati telinga mu dia juga akan singgah sebentar dan agar tidak lupa, kita harus mengingatnya” jelas Nara menggunakan bahasa isyarat

“aku ingin mendengarnya, andai kita terlahir satu orang saja, aku atau kamu pasti akan terlahir sebagai manusia sempurna, tapi kita pasti kesepian”

“tidak Ayi, kita tidak akan kesepian karna orang-orang akan mau berteman dengan kita”

Sakit kepala kembali menyerang Nara, bahkan ini lebih dari biasanya. Sampai tubuhnya tak sanggup lagi untuk menahan semua ini, tubuhnya memberikan reaksi dengan cara pingsan. Tak tau apa yang harus di perbuatnya, Ayi segerah memanggil ayahnya.

Dua tahun berlalu hanya di habiskan oleh Nara dengan bolak-balik keluar masuk rumah sakit. Tapi ia lebih sering masuk dibandingkan dengan keluar. “Ayah aku sudah bosan dengan bau rumah sakit, aku tak sanggup lagi, tubuhku rasanya sudah tak kuat lagi untuk memakan semua obat-obat itu” sang Ayah hanya mengusap pelan kepala anaknya “teruslah bertahan” hanya itu yang bisa di ucapkannya. “Ayah biarkan aku memberikan pendengaranku pada Ayi, dia ingin mendengar, lagian tidak ada gunanya juga aku membawah pendengaran ini kedalam kubur” hal itu sontak membuat ayahnya kaget, sepertinya kejadian beberapa tahun yang lalu akan terulang kembali.

“hay … Aisya Ayiera, apa kabar? Aku harap suara pertama yang kamu dengar adalah suara ku, tapi itu pasti mustahil, karna pas kamu udah bisa denger berarti aku udah tiada, pasti suara Dokter yang pertama kamu denger. Aku pamit, aku mau nyusul Ibu, yang kata ayah adalah wanita tangguh, kami, aku dan ibu akan melihat mu dari bulan. Aku nggak bisa nyanyi tapi aku mau bacain kamu puisi

Heii … jangan sedih

Aku disini

Heii … jangan pernah merasa sendiri

Aku disini

Aku akan selalu bersamamu dalam   keyakinan mu

Yakin lah aku bersamu mu

Ceritakan pada ku betapa indahnya warna itu

Aku penikmat warna yang tak bisa melihatnya

Lebih tepatnya

Aku penikmat cerita warna mu

Saudara kembar.

 

Sebelum benar-benar menghilangkan untuk selamanya, Nara merekam suaranya. Sekarang Ayi, benar-benar bisa mendengar, jantungnya berdegub kencang ketika mendengar yang namanya suara, apalagi itu adalah suara saudara kembarnya. Matanya langsung berair begitu saja. Sekarang ia tau arti sebuah perjuangan terlalu banyak orang yang berjuang untuknya selama ini, mulai dari Ibu nya yang pertama kali, lalu ayahnya, dan sekarang saudara kembarnya. Ayi berjanji tak akan pernah membuang sia-sia hidupnya, terlalu banyak yang akan kecewa jika ia gagal, terlalu banyak air mata yang akan menenggelamkannya dalam lautan penyesalan.

 

LEAVE A REPLY